Buku Bahasa Indonesia Kelas 4 SD Era 1980-1990-an Kembali Viral, Bangkitkan Nostalgia Masa Sekolah

0
1786479547807

JAKARTA — Sebuah buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa sekolah dasar dari era 1980-1990-an kembali menghidupkan nostalgia di tengah masyarakat. Foto sampul buku yang beredar di media sosial mengingatkan banyak orang pada masa ketika buku pelajaran, papan tulis, kapur, dan meja sekolah menjadi bagian dari keseharian anak-anak.

Bagi generasi yang pernah mengenyam pendidikan dasar pada masa tersebut, buku pelajaran bukan hanya berfungsi sebagai sarana belajar. Buku juga menjadi salah satu benda yang melekat dengan perjalanan masa kecil.

Munculnya kembali foto buku tersebut membuat kenangan lama seolah kembali terbuka.

Buku, guru, teman sebangku hingga suasana ruang kelas menjadi bagian dari memori yang mungkin telah tersimpan selama puluhan tahun.

BUKAN SEKADAR BUKU PELAJARAN

Perubahan teknologi pendidikan membuat pengalaman belajar anak-anak saat ini jauh berbeda dibanding beberapa dekade lalu.

Jika dahulu siswa sangat bergantung pada buku cetak dan catatan di buku tulis, kini materi pembelajaran dapat ditemukan melalui berbagai perangkat digital.

Namun, kesederhanaan proses belajar pada masa lalu justru menjadi sesuatu yang dirindukan oleh sebagian generasi yang mengalaminya.

Sebuah buku Bahasa Indonesia dapat mengingatkan seseorang pada bagaimana mereka pertama kali belajar membaca, memahami cerita, menyusun kalimat, hingga mengerjakan tugas yang diberikan guru.

Kenangan tersebut kemudian bercampur dengan pengalaman lain yang tidak tercatat di dalam buku.

Ada cerita tentang teman sebangku, bermain ketika jam istirahat, menunggu bel pulang, mengerjakan pekerjaan rumah, hingga pengalaman dimarahi guru karena belum menyelesaikan tugas.

Semua menjadi bagian dari perjalanan masa sekolah.

NOSTALGIA GENERASI 1980-1990-AN

Fenomena munculnya kembali benda-benda lama di media sosial menunjukkan bahwa nostalgia memiliki daya tarik tersendiri.

Foto buku sekolah, seragam lama, permainan tradisional, jajanan masa kecil hingga foto ruang kelas dapat memunculkan respons emosional dari orang-orang yang pernah mengalami masa tersebut.

Bukan semata-mata karena benda itu memiliki nilai material.

Yang dicari justru adalah kenangan yang melekat di baliknya.

Buku pelajaran yang dahulu dianggap biasa saja kini dapat menjadi pengingat sebuah fase kehidupan yang tidak mungkin diulang.

Bagi mereka yang lahir pada era 1970-an dan 1980-an, melihat kembali buku sekolah lama juga dapat menjadi kesempatan untuk mengingat kembali teman-teman yang pernah mengisi masa kecil.

Sebagian mungkin masih sering bertemu.

Sebagian lainnya mungkin telah tinggal di kota berbeda atau bahkan sudah puluhan tahun tidak berkomunikasi.

DARI BUKU KE KENANGAN

Pertanyaan sederhana seperti “apa mata pelajaran favoritmu ketika SD?” pun dapat membuka percakapan panjang.

Ada yang mungkin memilih Bahasa Indonesia karena menyukai membaca dan bercerita.

Ada yang menyukai Matematika karena menikmati tantangan berhitung.

Sebagian lainnya mungkin lebih menyukai IPA, IPS, kesenian, atau olahraga.

Pilihan tersebut sering kali bukan hanya berkaitan dengan pelajaran itu sendiri, tetapi juga dengan guru, teman dan pengalaman yang menyertainya.

Karena itu, sebuah foto buku pelajaran lama dapat memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.

Bagi seseorang, itu mungkin hanya buku lama.

Bagi orang lain, buku tersebut adalah pintu menuju masa ketika kehidupan terasa jauh lebih sederhana.

KENANGAN YANG TIDAK BISA DIULANG

Waktu terus berjalan dan dunia pendidikan terus berubah.

Buku cetak semakin berdampingan dengan teknologi digital. Cara anak-anak belajar pun mengalami transformasi.

Namun, perubahan tersebut tidak menghapus nilai kenangan dari masa lalu.

Bagi generasi yang pernah menggunakan buku-buku pelajaran pada era 1980-1990-an, melihat kembali sampul buku lama dapat menghadirkan perasaan seolah kembali duduk di bangku sekolah.

Ada rasa rindu kepada suasana kelas.

Ada rindu kepada teman-teman lama.

Dan ada kerinduan terhadap masa ketika persoalan terbesar seorang anak mungkin hanya pekerjaan rumah, ulangan, atau menunggu bel sekolah berbunyi.

Pada akhirnya, buku tersebut bukan sekadar kumpulan halaman berisi pelajaran Bahasa Indonesia.

Ia menjadi bagian dari perjalanan hidup sebuah generasi.

Masa sekolah memang tidak mungkin kembali.

Tetapi melalui sebuah foto, sebuah buku lama, atau cerita dari teman masa kecil, kenangan itu masih dapat dihidupkan kembali.

Kini pertanyaannya sederhana:

Apa mata pelajaran favorit Anda ketika masih duduk di bangku SD?

Dan yang tidak kalah menarik, apakah Anda masih menyimpan buku pelajaran dari masa sekolah puluhan tahun lalu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *