Proyek PLTSa Legok Nangka di Bandung Mulai Dibangun, Ubah 2.131 Ton Sampah Jadi 40,79 MW Listrik
Kabar besar datang dari Jawa Barat. Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) Legok Nangka di Kabupaten Bandung resmi dimulai dengan nilai investasi mencapai Rp7,2 triliun. Fasilitas ini digadang-gadang menjadi salah satu solusi terbesar untuk mengatasi persoalan sampah yang selama ini menjadi perhatian serius di kawasan Bandung Raya.
Setiap hari, sekitar 2.131 ton sampah dari enam kabupaten dan kota di Jawa Barat akan diolah menjadi energi listrik berkapasitas 40,79 megawatt. Jumlah sampah ini berasal dari Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Garut. Tak hanya mengurangi tumpukan sampah, proyek ini juga diharapkan mampu menghasilkan energi bersih yang bermanfaat bagi masyarakat.
Proyek ini terletak di Desa Legok Nangka dan Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung, di atas lahan seluas 17 hektare yang terbagi menjadi dua blok. Untuk memastikan kelancaran proses pengolahan, pemerintah daerah telah menyiapkan lahan seluas 30 hektare di sekitar lokasi untuk menampung sampah selama 25 tahun masa operasional.
Selama masa pembangunan selama 41 bulan, proyek ini diperkirakan menyerap 1.565 tenaga kerja. Tidak hanya itu, keberadaan PLTSa ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 311.874 ton CO2 ekuivalen, menjadikannya bagian dari upaya Indonesia dalam transisi energi dan mitigasi perubahan iklim.
PSEL Legok Nangka terdiri dari beberapa unit utama, yaitu unit pengolahan sampah menjadi bahan bakar, unit pembangkit listrik, dan unit pengelolaan residu. Dengan teknologi yang digunakan, sampah yang masuk tidak langsung dibakar, melainkan diolah melalui proses thermal treatment untuk menghasilkan energi listrik yang dapat dialirkan ke jaringan PLN.
Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk menyatakan bahwa proyek ini menjadi langkah nyata pemerintah dalam menyelesaikan masalah sampah perkotaan.
“Saya melihat hari ini babak baru dalam tata kelola sampah di Indonesia. Sampah bukan lagi masalah, tetapi menjadi energi bagi masyarakat,” ujarnya dalam groundbreaking proyek pada akhir Juli 2026.
Jika berjalan sesuai target, PSEL Legok Nangka bisa menjadi contoh pengelolaan sampah modern yang diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Keberhasilan proyek ini akan menjadi tolok ukur bagi pengembangan PLTSa lainnya di daerah-daerah yang masih bergulat dengan masalah sampah dan keterbatasan lahan tempat pembuangan akhir.
