Puting Beliung Terjang Kerinci, 28 Rumah Rusak, BPBD dan Warga Gotong Royong Bersihkan Puing

0
IMG-20260728-WA0059

KERINCI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kerinci bersama warga bergotong royong membersihkan puing-puing bangunan yang terdampak angin puting beliung di Desa Tutung Bungkuk dan Desa Koto Rendah, Kecamatan Siulak, Selasa (28/7/2026). Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (27/7/2026) petang dan menyebabkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan.

Kepala BPBD Kerinci, Dedi Andrixal, menyatakan sebanyak 28 rumah warga terdampak akibat bencana tersebut. Kerusakan paling banyak terjadi pada bagian atap rumah yang diterjang angin kencang.

Meski menimbulkan kerugian material, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa angin puting beliung tersebut. Petugas bersama masyarakat langsung melakukan penanganan pascabencana untuk membersihkan puing dan membantu memperbaiki bagian rumah warga yang mengalami kerusakan.

Pada Selasa (28/7/2026), petugas gabungan BPBD bersama masyarakat melaksanakan gotong royong di lokasi terdampak. Selain membersihkan sisa material bangunan, petugas juga terus melakukan pendataan terhadap rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan.

Pendataan tersebut dilakukan untuk mengetahui secara lebih akurat tingkat kerusakan dan total kerugian material yang ditimbulkan akibat bencana angin puting beliung.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Depati Parbo Kerinci, Kurnianingsih, menjelaskan bahwa fenomena angin puting beliung tersebut berkaitan dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus atau awan CB yang berkembang cukup kuat di wilayah Kerinci.

Berdasarkan analisis streamline, terdapat daerah belokan angin di wilayah Kabupaten Kerinci yang dapat mendukung pertumbuhan awan konvektif. Kondisi tersebut, ditambah konvektivitas lokal yang cukup kuat, berpotensi memicu terbentuknya awan Cumulonimbus yang dapat menghasilkan cuaca ekstrem, termasuk angin kencang.

Fenomena angin puting beliung juga tetap dapat terjadi meskipun wilayah Kerinci sedang memasuki musim kemarau. Pemanasan matahari dapat meningkatkan proses penguapan yang kemudian mendukung pertumbuhan awan hujan. Jika berkembang menjadi awan Cumulonimbus, kondisi tersebut berpotensi memicu hujan lebat yang disertai angin kencang.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem lainnya, termasuk kemungkinan hujan es yang dapat terjadi bersamaan dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus.

Peristiwa yang merusak 28 rumah warga ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi perlu dilakukan sepanjang tahun, termasuk saat musim kemarau. Masyarakat diimbau untuk memperhatikan kondisi bangunan rumah, terutama kekuatan atap dan bagian bangunan yang rentan terhadap terpaan angin kencang.

Selain itu, koordinasi antara BPBD, pemerintah desa, aparat terkait, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mempercepat penanganan ketika bencana terjadi. Gotong royong yang dilakukan warga bersama petugas menunjukkan pentingnya solidaritas masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat.

Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat mitigasi bencana dan sistem peringatan dini agar masyarakat dapat memperoleh informasi lebih cepat ketika potensi cuaca ekstrem terdeteksi. Dengan kesiapsiagaan yang baik, risiko korban dan kerugian akibat bencana dapat ditekan.

BPBD Kerinci bersama masyarakat kini terus melakukan penanganan dan pendataan terhadap dampak bencana. Pemerintah juga diharapkan dapat memastikan warga terdampak mendapatkan perhatian dan bantuan sesuai kebutuhan, sehingga proses pemulihan dapat berjalan cepat dan tepat sasaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *