Tangis Anak Pecah di Samping Jenazah Ayah, KD Tewas Dikeroyok Massa di Baturiti Bali karena Dugaan Curi Ayam Aduan

0
Screenshot_20260726-153324

TABANAN, BALI — Suasana duka menyelimuti keluarga KD, pria asal Desa Sidatapa, Kabupaten Buleleng, yang meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan massa di kawasan Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, Jumat (24/7) dini hari.

Tangis seorang anak perempuan pecah di hadapan jenazah ayahnya. Dalam suasana penuh kesedihan, sang anak terus memanggil ayahnya yang telah pergi untuk selamanya.

Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling menyayat hati dari peristiwa tragis yang kini menjadi perhatian masyarakat. Video singkat yang memperlihatkan kesedihan keluarga korban juga beredar dan viral di media sosial.

KD dilaporkan meninggal dunia setelah diamuk massa karena diduga melakukan pencurian seekor ayam aduan di wilayah Baturiti, Tabanan.

Peristiwa tersebut kemudian memicu ketegangan di lingkungan sekitar hingga situasi sempat memanas. Sepeda motor yang diduga digunakan oleh korban juga dilaporkan dibakar massa.

Aparat kepolisian kemudian turun ke lokasi untuk mengamankan situasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara.

Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap secara lengkap kronologi kejadian, motif, serta pihak-pihak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.

Di balik pemberitaan mengenai dugaan pencurian dan aksi pengeroyokan, terdapat sebuah keluarga yang kini harus menjalani kehidupan tanpa sosok ayah.

KD meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Anak sulungnya telah berkeluarga, sementara anak keduanya baru duduk di bangku kelas 1 SMA. Adapun putri bungsunya masih duduk di bangku kelas 1 SD.

Perbekel Desa Sidatapa, I Made Sutama, mengaku menjadi salah satu pihak yang menjemput jenazah KD hingga dibawa kembali ke rumah duka.

Namun, menurutnya, momen yang paling membekas bukanlah proses penjemputan jenazah, melainkan ketika melihat anak-anak korban menangis di hadapan jenazah ayah mereka.

Bagi I Made Sutama, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa apa pun dugaan kesalahan seseorang, penyelesaian tetap harus dilakukan melalui jalur hukum.

“Kalau memang bersalah, laporkan ke pihak berwajib. Jangan melakukan main hakim sendiri sampai menghilangkan nyawa orang hanya gara-gara mencuri ayam,” katanya.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya masyarakat menyerahkan setiap dugaan tindak pidana kepada aparat penegak hukum. Tindakan main hakim sendiri berisiko menimbulkan korban jiwa dan membawa persoalan baru di tengah masyarakat.

Kasus tewasnya KD kini masih dalam penanganan kepolisian. Masyarakat menunggu hasil penyelidikan untuk mengetahui secara utuh rangkaian peristiwa yang terjadi di Baturiti, Tabanan.

Di tengah proses hukum yang berjalan, duka keluarga KD menjadi sisi kemanusiaan yang tak dapat diabaikan. Seorang istri kehilangan suami, sementara tiga anak harus melanjutkan kehidupan tanpa kehadiran ayah mereka.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa dugaan pelanggaran hukum harus diselesaikan melalui proses hukum yang berlaku, bukan dengan kekerasan atau tindakan main hakim sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *