Populasi Paus Abu-abu Turun 7.000 Ekor dalam Tujuh Tahun, Ilmuwan Soroti Dampak Perubahan Iklim

0
IMG-20260713-WA0147

INTERNASIONAL – Populasi paus abu-abu (gray whale) di Samudra Pasifik mengalami penurunan drastis dalam tujuh tahun terakhir. Para ilmuwan menyebut perubahan iklim sebagai faktor utama yang mengganggu ekosistem laut Arktik dan mengurangi ketersediaan sumber makanan bagi mamalia laut tersebut.

Berdasarkan hasil pemantauan terbaru, jumlah paus abu-abu Pasifik diperkirakan turun dari sekitar 20.000 ekor pada 2019 menjadi kurang dari 13.000 ekor pada 2026. Penurunan sekitar 7.000 ekor atau sekitar 35 persen tersebut menjadi perhatian serius komunitas ilmiah dan lembaga konservasi dunia.

Paus abu-abu dikenal melakukan migrasi tahunan sejauh ribuan kilometer dari perairan hangat Baja California, Meksiko, menuju wilayah Alaska untuk mencari makan. Namun, mencairnya es laut akibat pemanasan global telah mengubah habitat dasar laut tempat hidup amphipoda dan organisme bentik yang menjadi makanan utama paus abu-abu.

Berkurangnya sumber makanan menyebabkan banyak paus mengalami kekurangan energi, gangguan reproduksi, hingga kematian. Para peneliti menjelaskan bahwa perubahan suhu laut juga mengubah komposisi ekosistem dasar laut sehingga memperburuk kondisi habitat alami spesies tersebut.

Selain perubahan iklim, paus abu-abu juga menghadapi berbagai ancaman lain, seperti tabrakan dengan kapal, pencemaran mikroplastik, tumpahan minyak, ledakan alga beracun, serta aktivitas manusia di jalur migrasi mereka.

Data pemantauan juga menunjukkan meningkatnya jumlah paus yang terdampar di pantai. Pada 2025 tercatat sekitar 179 bangkai paus ditemukan, sedangkan hingga pertengahan 2026 lebih dari 140 bangkai telah berhasil didata. Para ilmuwan meyakini jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar karena tidak semua bangkai paus terbawa ke pesisir.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) terus memantau fenomena tersebut melalui penyelidikan terhadap kejadian kematian paus yang dinilai tidak biasa (Unusual Mortality Event). Penelitian dilakukan untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi penurunan populasi sekaligus menentukan langkah konservasi yang tepat.

Para pakar konservasi kini mendorong agar status perlindungan paus abu-abu diperkuat kembali melalui Endangered Species Act (ESA) di Amerika Serikat. Mereka menilai perlindungan yang lebih kuat diperlukan untuk menjaga keberlangsungan populasi paus abu-abu di tengah meningkatnya tekanan akibat perubahan iklim.

Para ilmuwan menegaskan bahwa upaya mengurangi emisi gas rumah kaca, melindungi habitat laut Arktik, memperkuat konservasi, serta meningkatkan kerja sama internasional menjadi langkah penting agar spesies yang telah bertahan selama jutaan tahun ini tidak kembali berada di ambang kepunahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *