Rizkan : Mana yang Lebih Berbahaya, Kebodohan atau Kepintaran yang Disalahgunakan?
JAKARTA – Perdebatan mengenai ancaman terbesar bagi peradaban kembali mencuat setelah muncul dua sudut pandang yang sama-sama menyoroti pentingnya kualitas sumber daya manusia dalam membangun bangsa.
Jurnalis senior Najwa Shihab dalam berbagai kesempatan pernah mengingatkan bahwa kebodohan dapat menjadi ancaman serius bagi kehidupan masyarakat. Menurut pandangan tersebut, rendahnya literasi, minimnya pengetahuan, dan lemahnya kemampuan berpikir kritis dapat mempermudah penyebaran hoaks, manipulasi, serta pengambilan keputusan yang keliru.
Di sisi lain, Ketua Dewan Perwakilan AWNI Sumatera Raya sekaligus Ketua AWNI DPW Provinsi Jambi, Rizkan Al Mubarrok atau yang akrab disapa Barrok, menyampaikan analisis berbeda. Menurutnya, ancaman yang lebih besar justru datang dari kepintaran yang kehilangan nilai moral dan integritas.
“Kebodohan memang berbahaya. Namun kepintaran yang digunakan untuk melakukan kejahatan memiliki daya rusak yang jauh lebih besar,” ujar Rizkan dalam pandangannya.
Menurut Rizkan, berbagai persoalan besar yang pernah terjadi dalam sejarah dunia, mulai dari perang, penyalahgunaan teknologi, eksploitasi sumber daya, hingga praktik korupsi dan manipulasi kekuasaan, tidak lahir dari ketidaktahuan semata, melainkan dari kemampuan intelektual yang digunakan tanpa landasan etika.
Ia menilai kecerdasan seharusnya menjadi sarana membangun keadilan, kemanusiaan, serta kesejahteraan bersama. Sebaliknya, ketika ilmu pengetahuan dipakai untuk kepentingan sempit atau merugikan masyarakat, dampaknya dapat dirasakan dalam skala yang jauh lebih luas.
Dalam analisisnya, Rizkan menegaskan bahwa pandangannya tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan pemikiran siapa pun. Menurutnya, kedua pandangan tersebut justru saling melengkapi.
“Kebodohan perlu dilawan melalui pendidikan. Tetapi kepintaran tanpa adab dan integritas juga harus diwaspadai karena dapat melahirkan penyalahgunaan kekuasaan dan teknologi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang cerdas secara akademik. Pendidikan juga harus mampu membentuk karakter, kejujuran, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama.
Menurut Rizkan, kecerdasan yang dipadukan dengan moralitas akan menjadi kekuatan untuk memajukan bangsa. Sebaliknya, kecerdasan tanpa etika berpotensi menjadi sumber lahirnya berbagai persoalan yang mengancam kehidupan masyarakat.
Perdebatan mengenai hubungan antara ilmu pengetahuan, moralitas, dan tanggung jawab sosial masih menjadi pembahasan penting di berbagai forum akademik maupun kebijakan publik. Banyak kalangan menilai bahwa kemajuan teknologi dan pendidikan harus berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai etika agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
