4 Proyektil Hantam Bandar Lengeh Iran Selatan, AS Klaim Serangan Balasan atas Serangan Drone ke Kapal Tanker
BANDAR LENGEH – Empat proyektil dilaporkan menghantam wilayah di sekitar Bandar Lengeh, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, pada Minggu (28/6/2026) dini hari. Ledakan tersebut dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), yang menyebutkan insiden terjadi di Kabupaten Bandar Lengeh, meski penyebab pasti dan tingkat kerusakan belum diumumkan secara resmi.
Serangan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengaku bertanggung jawab atas operasi militer tersebut. Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebut serangan dilakukan sebagai bagian dari operasi lanjutan terhadap sejumlah sasaran militer Iran, termasuk fasilitas pengawasan, sistem komunikasi, pertahanan udara, gudang penyimpanan drone, hingga kemampuan peletakan ranjau laut.
Operasi tersebut menandai hari kedua berturut-turut serangan militer Amerika Serikat terhadap target-target di sekitar Selat Hormuz.
Washington menyatakan langkah tersebut merupakan respons atas serangkaian serangan drone yang dituduhkan kepada Iran terhadap kapal-kapal komersial di kawasan Teluk.
Insiden pertama dilaporkan terjadi ketika kapal kontainer berbendera Singapura, M/V Ever Lovely, mengalami serangan drone. Beberapa hari kemudian, kapal tanker berbendera Panama, M/T Kiku, yang membawa lebih dari dua juta barel minyak mentah, juga dilaporkan terkena serangan saat melintasi perairan dekat Selat Hormuz.
Menurut pemerintah Amerika Serikat, serangan terhadap kapal tanker tersebut menjadi alasan utama dilancarkannya operasi militer yang menyasar sejumlah lokasi strategis di Sirik, Bandar Lengeh, dan Pulau Qeshm.
Sebagai respons, Garda Revolusi Iran (IRGC) melancarkan serangan balasan menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait dan markas Armada Kelima AS di Bahrain.
Pemerintah Bahrain mengaktifkan sirene peringatan serangan udara dan meminta warga mencari perlindungan, sementara Kuwait meningkatkan kesiagaan sistem pertahanan udaranya untuk mengantisipasi ancaman rudal maupun drone.
Seorang pejabat Amerika Serikat menyatakan belum terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan besar pada fasilitas militer AS akibat serangan balasan tersebut.
Eskalasi ini terjadi hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan nota kesepahaman gencatan senjata pada 17 Juni 2026. Salah satu poin penting dalam kesepakatan tersebut adalah komitmen menjaga keamanan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh Iran melanggar kesepakatan tersebut setelah serangkaian serangan terhadap kapal dagang. Trump juga memperingatkan bahwa Washington siap mengambil langkah militer lebih lanjut apabila ancaman terhadap pelayaran internasional terus berlanjut.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran mengecam operasi militer Amerika Serikat sebagai pelanggaran serius terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta kesepakatan gencatan senjata, sembari menegaskan hak Iran untuk mempertahankan kedaulatan wilayahnya.
Ketegangan di Selat Hormuz kini menjadi perhatian dunia internasional. Jalur laut tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global sehingga setiap eskalasi militer berpotensi mengganggu distribusi energi internasional, memicu lonjakan harga minyak, serta meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.
Dengan aksi militer dan serangan balasan yang terus berlangsung, situasi keamanan di kawasan Teluk memasuki fase yang semakin tidak menentu. Komunitas internasional kini menantikan langkah diplomatik yang mampu mencegah konflik berkembang menjadi perang berskala lebih luas.
