Heat Dome Eropa 46 Derajat: Rekor Suhu Runtuh, Puluhan Tewas, Reaktor Nuklir Ditutup
JAKARTA – Gelombang panas ekstrem atau heat dome kembali melanda Eropa pada akhir Juni 2026, memicu rekor suhu di sejumlah negara, menelan korban jiwa, mengganggu transportasi, hingga memaksa penutupan sebagian fasilitas publik dan pembangkit listrik tenaga nuklir.
Fenomena yang dipicu pola atmosfer Omega Block tersebut menyebabkan massa udara panas terperangkap di atas Eropa Barat dan Tengah sehingga suhu permukaan meningkat jauh di atas normal. Di sejumlah wilayah, temperatur tercatat hingga 15–18 derajat Celsius lebih tinggi dibanding rata-rata musim ini.
Prancis menjadi salah satu negara yang terdampak paling parah. Suhu mencapai 44,3 derajat Celsius di Pissos, sementara Paris mencatat lebih dari 40 derajat Celsius. Pemerintah menetapkan status siaga merah di puluhan departemen setelah cuaca ekstrem memicu meningkatnya korban jiwa, insiden tenggelam, serta gangguan layanan kesehatan.
Dampak gelombang panas juga merambah sektor energi. Salah satu reaktor di pembangkit listrik tenaga nuklir Golfech ditutup sementara karena suhu air Sungai Garonne yang digunakan sebagai pendingin melebihi ambang batas operasional. Sejumlah pembangkit lain juga mengurangi kapasitas produksi akibat keterbatasan air pendingin.
Di Spanyol, suhu mencapai 46 derajat Celsius di El Granado, Andalusia, menjadi salah satu rekor tertinggi untuk bulan Juni. Otoritas mengeluarkan peringatan merah di berbagai wilayah, sementara kebakaran hutan dan panas ekstrem mengganggu aktivitas masyarakat serta layanan transportasi.
Italia menetapkan status siaga merah di sejumlah kota besar, termasuk Roma, Milan, Florence, Turin, dan Verona. Kementerian Kesehatan Italia memperingatkan meningkatnya risiko kesehatan akibat “malam tropis”, ketika suhu tetap berada di atas 25 derajat Celsius sepanjang malam.
Inggris juga memecahkan rekor suhu bulan Juni dengan temperatur di atas 36 derajat Celsius. Gelombang panas menyebabkan penutupan sekolah, gangguan layanan kereta api, serta peringatan panas tingkat tertinggi dari Met Office.
Kondisi serupa terjadi di Jerman, Belgia, Portugal, Swiss, dan sejumlah negara Eropa lainnya. Jalan raya mengalami kerusakan akibat panas ekstrem, layanan transportasi terganggu, dan risiko kebakaran hutan meningkat di berbagai wilayah.
Para ilmuwan menyatakan bahwa gelombang panas kali ini diperkuat oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Analisis World Weather Attribution (WWA) menyebut kejadian seperti ini hampir tidak mungkin terjadi tanpa pengaruh pemanasan global yang dipicu emisi gas rumah kaca. Eropa juga merupakan kawasan yang mengalami pemanasan sekitar dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global.
Selain korban jiwa, gelombang panas menyebabkan rumah sakit kewalahan menangani pasien, sekolah ditutup, acara publik dibatalkan, produktivitas menurun, serta menimbulkan tekanan besar terhadap sistem energi dan transportasi. Para ahli memperingatkan bahwa peristiwa cuaca ekstrem seperti ini berpotensi menjadi semakin sering dan lebih intens apabila laju perubahan iklim tidak ditekan.
