Harga Minyak Turun di Bawah US$80 per Barel, Harapan Damai AS-Iran Redakan Kekhawatiran Pasar
LONDON — Harga minyak dunia kembali melemah dan turun di bawah level psikologis US$80 per barel pada perdagangan Senin (22/6/2026), setelah mediator Qatar dan Pakistan mengumumkan adanya peta jalan 60 hari menuju kesepakatan final antara Amerika Serikat dan Iran.
Minyak mentah Brent tercatat turun US$1,46 atau sekitar 1,8 persen menjadi US$79,11 per barel pada pukul 11.27 GMT. Sebelumnya, harga sempat melonjak hingga US$82,30 per barel akibat kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di level US$76,84 per barel. Namun kontrak yang lebih aktif untuk pengiriman Agustus turun sekitar 0,8 persen menjadi US$75,28 per barel.
Penurunan harga minyak dipicu oleh membaiknya sentimen pasar setelah Qatar dan Pakistan mengumumkan hasil positif perundingan tingkat tinggi AS-Iran yang berlangsung di Bürgenstock, Swiss. Kedua negara mediator menyatakan bahwa Washington dan Teheran telah menyepakati kerangka negosiasi selama 60 hari guna mencapai kesepakatan yang lebih komprehensif.
Dalam pernyataan bersama, kedua mediator juga mengonfirmasi bahwa negosiasi teknis akan berlanjut sepanjang pekan ini, sementara komite tingkat tinggi dibentuk untuk mengawasi implementasi proses diplomatik tersebut.
Perkembangan ini langsung meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi global yang selama beberapa bulan terakhir menjadi faktor utama lonjakan harga minyak dunia.
Sebelumnya, pasar sempat bergejolak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman tindakan militer terhadap Iran. Pernyataan tersebut muncul di tengah keputusan Teheran yang kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu keluar sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Namun optimisme kembali muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa negaranya telah memperoleh sejumlah konsesi penting dalam proses negosiasi, termasuk pelonggaran ekspor minyak dan petrokimia, pencairan sebagian aset yang dibekukan, serta peluang rekonstruksi ekonomi pasca-konflik.
Analis UBS Giovanni Staunovo menilai pasar mulai memperhitungkan kemungkinan meningkatnya kembali ekspor minyak Iran dalam waktu dekat.
Data terbaru menunjukkan lebih dari 25 juta barel minyak Iran telah berhasil melewati jalur yang sebelumnya terdampak pembatasan dalam sepekan terakhir. Pada saat yang sama, negara-negara produsen utama di kawasan Teluk seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak turut meningkatkan pasokan ke pasar internasional.
Meski demikian, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang dari pasar energi global.
Serangan udara Israel di Lebanon selatan yang menewaskan puluhan orang pada akhir pekan lalu masih menjadi faktor yang berpotensi memicu volatilitas harga. Iran juga menuduh Amerika Serikat belum memberikan jaminan penuh terhadap pelaksanaan gencatan senjata di Lebanon.
Lembaga keuangan ANZ memperkirakan sekitar 2 hingga 3 juta barel per hari pasokan tambahan dapat kembali memasuki pasar dalam empat minggu pertama apabila proses diplomasi berjalan sesuai rencana.
Namun ANZ menegaskan bahwa pemulihan penuh pasokan minyak masih menghadapi berbagai tantangan.
“Pemulihan awal kemungkinan didorong oleh faktor logistik dan pengiriman. Pemulihan penuh produksi tidak mungkin terjadi tahun ini,” tulis ANZ dalam laporan riset terbarunya.
Turunnya harga minyak di bawah US$80 per barel menunjukkan mulai berkurangnya premi risiko geopolitik yang selama berbulan-bulan menopang harga energi dunia. Harapan terhadap tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran membuka peluang normalisasi pasokan minyak dari kawasan Teluk.
Meski demikian, pasar masih akan mencermati implementasi kesepakatan di lapangan, terutama terkait keamanan Selat Hormuz, stabilitas Lebanon, dan keberlanjutan gencatan senjata regional. Jika proses diplomasi terus menunjukkan kemajuan, harga minyak berpotensi bergerak lebih rendah. Sebaliknya, setiap eskalasi baru di Timur Tengah dapat kembali memicu lonjakan harga secara cepat karena kondisi pasar energi global masih tergolong rapuh.
