48 Pengembang China Laporkan Apple ke Regulator, Tuduh Langgar Janji Tarif Terendah Global
BEIJING – Gelombang tekanan terhadap kembali menguat. Sebanyak 48 pengembang aplikasi iOS skala kecil dan menengah di China secara resmi melaporkan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat tersebut kepada regulator antimonopoli China pada 22 Juni 2026.
Dalam pengaduan yang diajukan kepada Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar (SAMR), para pengembang menuduh Apple melakukan berbagai praktik anti-persaingan, termasuk diskriminasi pasar, penetapan harga tidak adil, pembatasan perdagangan, pengikatan layanan, hingga penyalahgunaan posisi dominan dalam ekosistem iOS di China.
Langkah ini menjadi salah satu tantangan hukum terbesar yang dihadapi Apple di pasar China dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah sejumlah negara lain mulai memaksa perusahaan tersebut membuka sebagian ekosistem App Store kepada kompetitor dan penyedia layanan pembayaran alternatif.
Dalam surat pengaduan bersama, para pengembang meminta regulator menyelidiki dugaan pelanggaran hukum persaingan usaha yang dilakukan Apple. Mereka juga mendesak pembukaan distribusi aplikasi pihak ketiga, sistem pembayaran pihak ketiga dalam aplikasi, serta mekanisme pembayaran melalui tautan eksternal yang selama ini masih dibatasi dalam ekosistem iOS di China.
Dipicu Kebijakan Baru Apple di Brasil
Pengaduan tersebut muncul tidak lama setelah Apple melakukan perubahan besar pada kebijakan App Store di Brasil pada 19 Juni 2026.
Setelah menghadapi penyelidikan panjang dari otoritas persaingan usaha Brasil, Apple menyetujui sejumlah penyesuaian yang memungkinkan distribusi aplikasi pihak ketiga, pembayaran eksternal, serta penurunan tarif komisi untuk transaksi dalam aplikasi atau In-App Purchase (IAP).
Sebelumnya, kebijakan serupa juga telah diterapkan di sejumlah yurisdiksi lain seperti dan .
Perubahan tersebut dinilai memberikan lebih banyak pilihan kepada pengembang maupun konsumen dalam menentukan metode pembayaran dan distribusi aplikasi.
Sebaliknya, para pengembang China menilai pasar domestik masih berada dalam kondisi yang jauh lebih tertutup karena distribusi aplikasi iOS dan sistem pembayaran digital masih sangat bergantung pada App Store milik Apple.
Persoalkan Janji “Tarif Terendah Global”
Salah satu poin utama dalam pengaduan adalah dugaan pelanggaran terhadap komitmen Apple yang sebelumnya menjanjikan “tarif terendah global” bagi pengembang di China.
Pada Maret 2026, Apple diketahui melakukan penyesuaian tarif komisi App Store di China dan menyampaikan komitmen untuk menjaga tingkat tarif yang kompetitif dibandingkan pasar internasional lainnya.
Namun para pengembang menilai implementasi kebijakan baru di Brasil membuat janji tersebut tidak lagi relevan.
Menurut mereka, meskipun tarif komisi resmi di China mungkin terlihat lebih rendah dibanding beberapa negara lain, kenyataannya pengembang hanya memiliki satu jalur distribusi dan pembayaran yang tersedia.
Kondisi tersebut membuat biaya operasional dan ketergantungan terhadap satu platform menjadi lebih tinggi dibandingkan negara-negara yang telah membuka alternatif distribusi maupun sistem pembayaran.
Pengembang iOS independen Tian Junwei, yang menjadi salah satu pihak pengadu, menyatakan bahwa tarif komprehensif yang ditanggung pengembang China masih lebih besar karena tidak adanya pilihan saluran lain di luar App Store dan sistem pembayaran resmi Apple.
Tekanan Global terhadap Apple Semakin Besar
Praktik komisi App Store yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai “Apple Tax” telah menjadi sorotan regulator di berbagai negara.
Apple selama ini menerapkan komisi antara 15 hingga 30 persen terhadap transaksi digital yang dilakukan melalui sistem pembayaran dalam aplikasi.
Model bisnis tersebut mulai mendapat tantangan serius sejak sengketa hukum antara Apple dan Epic Games pada 2020 yang memicu gelombang investigasi antimonopoli di berbagai negara.
Sejak saat itu, regulator di Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, hingga Brasil semakin aktif mengawasi praktik bisnis Apple terkait App Store dan sistem pembayaran digital.
Kini, tekanan serupa mulai menguat di China, salah satu pasar terpenting Apple di dunia di luar Amerika Serikat.
Berpotensi Mengubah Ekosistem Digital China
Para pengembang juga mengusulkan pembentukan mekanisme pengawasan yang memungkinkan setiap kebijakan baru yang diterapkan Apple di pasar internasional secara otomatis dievaluasi untuk diterapkan di China.
Mereka berpendapat bahwa apabila Apple membuka sistem pembayaran atau distribusi aplikasi di negara lain, maka pengembang China seharusnya memperoleh perlakuan yang setara.
Hingga laporan ini disusun, Apple belum memberikan tanggapan resmi terkait pengaduan yang diajukan oleh 48 pengembang tersebut.
Apabila regulator China memutuskan untuk melakukan penyelidikan formal dan menemukan adanya pelanggaran hukum persaingan usaha, Apple berpotensi menghadapi sanksi administratif, denda dalam jumlah besar, hingga kewajiban melakukan perubahan mendasar terhadap model bisnis App Store di China.
Kasus ini menjadi babak terbaru dalam perdebatan global mengenai dominasi platform digital besar. Hasil penyelidikan nantinya tidak hanya akan berdampak pada Apple, tetapi juga berpotensi menentukan arah masa depan ekosistem aplikasi dan ekonomi digital di China yang selama ini didominasi oleh satu gerbang distribusi utama.
