Kisah Yusril Ihza Mahendra tentang Soeharto di Masa Tua: Rumah Cendana Bocor hingga Mengaku Tak Punya Uang
SOROTAN PUBLIK, JAKARTA – Kehidupan mantan Presiden Republik Indonesia Soeharto setelah tidak lagi berkuasa menyimpan sejumlah kisah yang jarang diketahui publik. Salah satunya diceritakan oleh Yusril Ihza Mahendra, yang mengaku pernah mendengar langsung keluhan Soeharto mengenai kondisi rumah dan kesulitan keuangan pada masa tuanya.
Kisah tersebut disampaikan Yusril dalam wawancara dengan CNN Indonesia yang menjadi sumber penuturan ini. Ia menceritakan pengalamannya ketika bertemu Soeharto di kediaman pribadi keluarga Cendana, Menteng, Jakarta, pada pertengahan 2000-an.
Hubungan Yusril dengan Soeharto mulai terjalin ketika dirinya bertugas sebagai Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara pada 1998. Saat itu, Yusril beberapa kali mendatangi kediaman Soeharto bersama atasannya, Saadilah Mursyid.
Beberapa tahun kemudian, ketika Yusril menjabat Menteri Sekretaris Negara pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ia kembali mendapat kesempatan bertemu dengan mantan presiden tersebut.
Soeharto Pernah Meminta Rumah kepada Pemerintah
Yusril mengisahkan, suatu hari dirinya menerima telepon dari ajudan Soeharto, I Gusti Nyoman Suweden. Melalui sambungan telepon tersebut, ia mendapat kabar bahwa Soeharto ingin bertemu dengannya di kediaman Jalan Cendana.
Dalam pertemuan itu, Soeharto menyampaikan keinginannya untuk memperoleh rumah dari pemerintah.
“Ril, saya ini perlu rumah,” ujar Soeharto, sebagaimana ditirukan Yusril.
Yusril kemudian menanyakan alasan Soeharto membutuhkan rumah baru. Soeharto menjelaskan bahwa sejumlah mantan presiden sebelumnya telah memperoleh rumah dari negara.
“Ya kan yang lain sudah, toh. Gus Dur (Abdurrahman Wahid) sudah dikasih rumah. Megawati sudah. Ya yang belum kan saya,” jawab Soeharto sambil tertawa.
Permintaan tersebut berkaitan dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1978 tentang Hak Keuangan/Administratif Presiden dan Wakil Presiden serta Bekas Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, yang mengatur hak mantan presiden dan wakil presiden atas rumah kediaman beserta perlengkapannya dari negara.
Menurut cerita Yusril, Soeharto memiliki rencana agar rumah yang diperolehnya kelak dapat dimanfaatkan menjadi rumah sakit kecil. Keinginan itu disebut berkaitan dengan cita-cita mendiang istrinya, Siti Hartinah atau Tien Soeharto.
Soeharto bahkan telah menyebut lokasi rumah yang diinginkannya, yakni di kawasan ujung Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat.
Namun, rencana tersebut terbentur persoalan harga. Yusril menyebut rumah yang diinginkan Soeharto bernilai sekitar Rp75 miliar, sedangkan anggaran yang tersedia saat itu disebut hanya Rp20 miliar.
Dalam percakapan tersebut, Soeharto juga sempat menyinggung rumah yang diberikan kepada Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri. Suasana pertemuan pun berlangsung santai dan diselingi candaan.
Rumah Cendana Bocor, Soeharto Duduk Sendirian
Ada satu bagian lain dari pertemuan itu yang membekas dalam ingatan Yusril.
Saat berbincang, Soeharto mengarahkan perhatian Yusril pada kondisi rumah pribadinya yang mulai mengalami kerusakan.
“Ril, lihat tuh rumah bocor-bocor,” tutur Yusril, menirukan ucapan Soeharto.
Sekitar satu bulan kemudian, Yusril kembali mendapat undangan untuk datang ke kediaman Cendana. Namun, suasana rumah yang ditemuinya saat itu terasa berbeda.
Menurut Yusril, rumah tersebut tampak sepi. Ia tidak melihat anak-anak maupun cucu Soeharto sedang menemani mantan presiden tersebut. Hanya sejumlah asisten rumah tangga dan ajudan yang terlihat berada di sekitar kediaman.
Ketika memasuki ruangan, Yusril mendapati Soeharto sedang duduk seorang diri di kursi goyang.
Pemandangan itu menimbulkan kesan mendalam bagi Yusril. Ia mengingat sosok yang pernah memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade tersebut kini berada dalam suasana rumah yang menurut pengamatannya begitu sunyi.
“Di situ saya timbul rasa kasihan. Rumah sepi enggak ada orang. Pak Harto duduk di kursi goyang. Ini yang sekian lama berkuasa di Indonesia, duduk sendirian di kursi goyang, kira-kira begitu,” ungkap Yusril.
Soeharto Mengaku Tidak Punya Uang
Dalam pertemuan kedua tersebut, Soeharto kembali membicarakan permintaan rumah yang sebelumnya disampaikan kepada Yusril.
Namun, kali ini ia mengaku mengurungkan niat untuk meminta rumah seharga Rp75 miliar. Sebagai gantinya, Soeharto meminta agar pemerintah memberikan uang sebesar Rp20 miliar.
“Jadi gini ya, Ril, soal rumah itu. Kalau dibilang Rp75 miliar ya berat. Nanti kamu Mensesneg jadi susah. Saya enggak jadi lah rumah itu. Saya minta duitnya saja,” ujar Soeharto, sebagaimana ditirukan Yusril.
Yusril mengaku terkejut mendengar permintaan tersebut. Terlebih, Soeharto kemudian menyampaikan alasan bahwa dirinya membutuhkan uang untuk memperbaiki rumah di Cendana.
“Pak Harto bilang, ‘saya sudah enggak punya duit’. Di situ saya mulai agak terharu,” kenang Yusril.
Menurut penuturan Yusril, Soeharto mengaku kesulitan membiayai perbaikan rumah yang mengalami kebocoran di sejumlah bagian.
“Saya sudah tidak punya duit untuk biaya ini biaya itu. Rumah sudah rusak ini. Jadi tolong kamu kasih saya uang Rp20 miliar,” ujar Soeharto, sebagaimana diceritakan kembali oleh Yusril.
Pengakuan itulah yang kemudian menjadi salah satu bagian paling membekas dalam ingatan Yusril mengenai kehidupan Soeharto setelah meninggalkan jabatan presiden.
Yusril Membicarakan Permintaan Itu dengan Sri Mulyani dan SBY
Setelah mendengar permintaan Soeharto, Yusril berupaya membicarakannya dengan pemerintah.
Ia kemudian menemui Menteri Keuangan saat itu, Sri Mulyani Indrawati, untuk membahas kemungkinan pemberian uang sebesar Rp20 miliar.
Dalam ceritanya, Yusril menyebut sempat menjelaskan persoalan tersebut sebagai kewajiban pemerintah kepada mantan presiden.
Sri Mulyani kemudian menyampaikan bahwa persoalan itu perlu mendapatkan persetujuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Yusril pun membawa masalah tersebut kepada SBY. Setelah mendapatkan penjelasan mengenai permintaan dan alasan yang disampaikan Soeharto, SBY disebut memberikan persetujuan melalui memo tertulis.
Kisah tersebut menjadi pengalaman pribadi yang tidak mudah dilupakan Yusril. Ia mengaku tersentuh karena Soeharto menyampaikan persoalan keuangan dan kondisi rumahnya secara langsung kepadanya.
Kesaksian Pribadi tentang Kehidupan Soeharto
Cerita Yusril memberikan gambaran mengenai salah satu sisi kehidupan Soeharto setelah tidak lagi menjabat sebagai kepala negara. Sosok yang pernah berada di puncak kekuasaan Indonesia itu, menurut kesaksian Yusril, pernah mengeluhkan kondisi rumah dan kebutuhan biaya perbaikannya.
Meski demikian, pengakuan Soeharto bahwa dirinya tidak memiliki cukup uang sebagaimana dituturkan Yusril harus dipahami sebagai kesaksian mengenai percakapan pribadi. Hal tersebut tidak serta-merta membuktikan keseluruhan kondisi kekayaan, aset, maupun kemampuan finansial Soeharto pada masa itu.
Kisah ini sekaligus memperlihatkan bagaimana hubungan personal dan komunikasi antara pejabat pemerintahan dengan mantan presiden dapat menjadi bagian dari catatan sejarah politik Indonesia.
Sumber: Disadur dari wawancara CNN Indonesia dengan Yusril Ihza Mahendra, sebagaimana dikutip dalam kisah tersebut.
