Polemik Raffi Ahmad Jadi Sorotan, Hanasui Klarifikasi Status Nagita Slavina sebagai Brand Ambassador
JAKARTA – Polemik yang menyeret Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, terus menjadi perhatian publik. Kali ini, nama sang istri, Nagita Slavina, ikut diperbincangkan setelah warganet meminta salah satu brand kecantikan mengevaluasi kerja sama dengannya.
Brand kecantikan Hanasui menjadi sasaran komentar sejumlah pengguna media sosial yang meminta perusahaan tidak lagi menggunakan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina sebagai wajah promosi produk.
Desakan tersebut muncul di tengah ramainya kritik terhadap Raffi Ahmad setelah kehadirannya dalam acara Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada 29 Oktober 2026.
Salah satu pengguna Threads mengaku sebagai konsumen Hanasui dan secara terbuka meminta perusahaan mengevaluasi kerja sama dengan pasangan selebritas tersebut. Pengguna itu bahkan menyampaikan ancaman tidak akan lagi membeli produk Hanasui apabila permintaannya tidak dipenuhi.
Hanasui Berikan Klarifikasi soal Nagita Slavina
Menanggapi komentar yang berkembang, akun resmi Hanasui memberikan jawaban melalui media sosial.
Dalam klarifikasinya, perusahaan menyampaikan bahwa Nagita Slavina sudah tidak lagi berstatus sebagai brand ambassador Hanasui.
Pernyataan tersebut kemudian menarik perhatian warganet karena disampaikan ketika nama Raffi Ahmad dan keluarganya sedang menjadi perbincangan akibat polemik deklarasi Sumpah Pemuda.
Meski demikian, klarifikasi tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa berakhirnya kerja sama Nagita dengan Hanasui berkaitan dengan kontroversi yang menyeret Raffi Ahmad.
Hingga informasi ini disusun, belum terdapat keterangan resmi yang menjelaskan secara terperinci kapan kerja sama tersebut berakhir maupun alasan berakhirnya status Nagita sebagai brand ambassador.
Kehadiran Raffi Ahmad di Deklarasi Sumpah Pemuda Menuai Kritik
Sebelumnya, Raffi Ahmad menjadi sorotan setelah menghadiri Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di Bundaran HI pada 29 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut menuai kontroversi setelah muncul pengakuan sejumlah peserta yang menyebut diri mereka bukan mahasiswa aktif dan mengaku menerima bayaran untuk menghadiri acara.
Raffi kemudian memberikan klarifikasi. Ia menyatakan hadir sebagai undangan dan mengaku baru menerima informasi mengenai kegiatan tersebut pada malam sebelum acara berlangsung.
Raffi juga menegaskan tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan kegiatan, serta tidak mengetahui secara terperinci susunan acara dan pihak-pihak yang hadir.
Dampak Kontroversi Figur Publik terhadap Kerja Sama Komersial
Polemik tersebut turut memunculkan perbincangan mengenai hubungan antara citra figur publik dan kerja sama komersial dengan perusahaan.
Di era media sosial, konsumen memiliki ruang lebih luas untuk menyampaikan kritik, memberikan masukan, hingga menyuarakan pilihan terhadap merek yang mereka gunakan.
Namun, keputusan perusahaan dalam mempertahankan atau mengakhiri kerja sama dengan seorang figur publik tetap perlu dilihat berdasarkan keterangan resmi dan fakta yang tersedia.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana kontroversi yang melibatkan figur publik dapat meluas menjadi perbincangan mengenai keluarga, citra merek, serta hubungan bisnis.
Publik kini menyoroti klarifikasi Hanasui mengenai status Nagita Slavina, sementara alasan dan waktu berakhirnya kerja sama tersebut masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dari pihak perusahaan.
