ERA NETANYAHU BERAKHIR? Oposisi Israel Rayakan Hasil Pemilu 2026, Perebutan Kekuasaan Belum Usai
ZONA +62 | INTERNASIONAL — 29 OKTOBER 2026
TEL AVIV, ISRAEL — Persaingan politik Israel memasuki babak penting setelah pemilihan parlemen pada Selasa (27/10/2026). Hasil sementara menunjukkan persaingan ketat antara kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan kelompok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot.
Perayaan para pendukung oposisi mencerminkan harapan akan perubahan kepemimpinan. Namun, hasil sementara pemilu belum memastikan berakhirnya pemerintahan Netanyahu.
Pertanyaan besar kini mengemuka: apakah Netanyahu benar-benar kehilangan kekuasaan, atau masih mampu membentuk koalisi untuk mempertahankan jabatannya?
OPOSISI ISRAEL KLAIM MOMEN PERUBAHAN
Gadi Eisenkot, mantan kepala staf militer Israel yang memimpin Partai Yashar, menjadi salah satu tokoh utama dalam upaya oposisi mengakhiri pemerintahan Netanyahu.
Sejumlah tokoh oposisi menyampaikan optimisme bahwa hasil pemilu mencerminkan keinginan sebagian masyarakat Israel untuk menghadirkan perubahan politik.
Mantan Perdana Menteri Naftali Bennett juga menyatakan bahwa Netanyahu telah kalah secara politik.
Pernyataan tersebut disambut antusias oleh pendukung oposisi. Meski demikian, klaim kemenangan politik harus dibedakan dari hasil resmi pemilu dan kemampuan membentuk pemerintahan dengan dukungan mayoritas parlemen.
HASIL SEMENTARA PEMILU ISRAEL MASIH DIPEREBUTKAN
Menurut angka sementara yang disebut dalam laporan The Times of Israel pada 28 Oktober 2026, ketika sekitar 84,5 persen suara telah dihitung, pembagian kursi diproyeksikan sebagai berikut:
- Blok pendukung Netanyahu: 54 kursi.
- Blok oposisi yang dipimpin Eisenkot: 49 kursi.
- Partai-partai Arab: 17 kursi.
Angka tersebut merupakan proyeksi sementara pada tahap penghitungan tertentu, bukan hasil final.
Knesset, parlemen Israel, memiliki 120 kursi. Sebuah koalisi membutuhkan dukungan minimal 61 anggota parlemen untuk memperoleh mayoritas.
Dengan demikian, kedua blok utama belum dapat mengamankan mayoritas secara mandiri berdasarkan angka tersebut. Negosiasi dengan partai-partai lain berpotensi menentukan arah pembentukan pemerintahan berikutnya.
PARTAI ARAB ISRAEL BERPOTENSI MEMENGARUHI KOALISI
Perolehan kursi partai-partai yang mewakili warga Arab Israel menjadi salah satu faktor penting dalam dinamika politik pascapemilu.
Jika komposisi sementara tersebut bertahan, dukungan kelompok-kelompok ini dapat memengaruhi perhitungan koalisi di parlemen.
Namun, pembentukan pemerintahan tidak hanya bergantung pada jumlah kursi. Kesamaan agenda, perbedaan ideologi, serta sikap terhadap kebijakan keamanan dan konflik Palestina juga dapat memengaruhi kemungkinan kerja sama.
Karena itu, belum dapat dipastikan bagaimana partai-partai tersebut akan mengambil posisi dalam proses pembentukan pemerintahan.
BENJAMIN NETANYAHU MASIH BERPELUANG BERTAHAN
Meskipun menghadapi persaingan ketat, Netanyahu belum otomatis kehilangan peluang untuk mempertahankan jabatan perdana menteri.
Partai Likud yang dipimpinnya memiliki posisi penting dalam peta politik Israel. Akan tetapi, menjadi partai tunggal terbesar tidak dengan sendirinya menjamin terbentuknya pemerintahan mayoritas.
Netanyahu tetap harus memperoleh dukungan yang cukup dari partai-partai lain untuk mengamankan pemerintahan di Knesset.
Sebaliknya, oposisi juga harus membuktikan bahwa mereka mampu menyatukan dukungan politik yang diperlukan untuk membentuk koalisi alternatif.
Hasil akhir pemilu dan negosiasi antarpihak akan menjadi faktor penentu.
DAMPAK PEMILU ISRAEL TERHADAP PALESTINA DAN GAZA
Pemilu berlangsung di tengah perhatian internasional terhadap perang Gaza, kebijakan keamanan Israel, hubungan dengan negara-negara Timur Tengah, dan masa depan penyelesaian konflik Palestina–Israel.
Pergantian kepemimpinan dapat memengaruhi prioritas politik dan pendekatan diplomatik pemerintah Israel. Namun, perubahan pemimpin tidak otomatis menjamin perubahan menyeluruh terhadap kebijakan negara.
Arah kebijakan berikutnya akan dipengaruhi oleh komposisi koalisi, kesepakatan politik, pertimbangan keamanan, serta keputusan pemerintahan yang terbentuk.
Bagi masyarakat Palestina dan komunitas internasional, perhatian utama tetap mencakup perlindungan warga sipil, bantuan kemanusiaan, penghentian kekerasan, dan upaya mencapai penyelesaian konflik yang berkelanjutan.
APAKAH ERA NETANYAHU BENAR-BENAR BERAKHIR?
Hasil sementara pemilu Israel memperlihatkan persaingan politik yang ketat. Namun, menyatakan era Netanyahu telah berakhir masih terlalu dini sebelum hasil akhir dan proses pembentukan pemerintahan memberikan kepastian.
Netanyahu masih harus memperjuangkan dukungan koalisi, sedangkan Eisenkot dan oposisi menghadapi tantangan untuk mengumpulkan mayoritas parlemen.
Perkembangan berikutnya akan menentukan apakah Israel memasuki era pemerintahan baru atau kembali dipimpin Netanyahu.
BAGAIMANA MENURUT ANDA?
Jika terjadi pergantian kepemimpinan di Israel, apakah hal tersebut berpotensi membuka jalan baru menuju perdamaian Palestina, ataukah perubahan kebijakan akan tetap menghadapi hambatan besar?
Sampaikan pendapat Anda secara bijak di kolom komentar.
Sumber awal yang perlu diverifikasi: The Times of Israel, Associated Press (AP), Agence France-Presse (AFP), dan media internasional terkait. Pastikan tautan sumber dan hasil akhir pemilu diperiksa sebelum artikel diterbitkan.
