Mengapa Raja Arab Saudi Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW, tetapi Bisa Menjadi Raja? Ini Penjelasan Sejarahnya

0
1790086031452-1

JAKARTA — Salah satu pertanyaan yang kerap muncul ketika membahas sejarah politik dunia Islam adalah: mengapa Raja Arab Saudi bukan keturunan langsung Nabi Muhammad SAW, tetapi dapat menjadi raja di negeri yang memiliki dua kota suci, Makkah dan Madinah?

Jawabannya berkaitan dengan sejarah pembentukan kekuasaan di Jazirah Arab.

Secara genealogis, keluarga Al Saud tidak dikenal sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad SAW. Tradisi genealogis menempatkan Al Saud dalam rumpun Bani Hanifah, yang berhubungan dengan kelompok Bani Bakr bin Wa’il dari Rabi’ah.

Sementara itu, Nabi Muhammad SAW berasal dari Bani Hasyim, salah satu klan dari suku Quraisy.

Dengan demikian, terdapat perbedaan nasab antara keluarga Al Saud dan keturunan Nabi Muhammad SAW.

Namun, menjadi keturunan Nabi bukanlah syarat universal untuk menjadi penguasa sebuah wilayah.

Kekuasaan Al Saud Berawal dari Diriyah

Cikal bakal kekuasaan keluarga Al Saud berkembang di kawasan Najd, khususnya wilayah Diriyah.

Pada abad ke-18, Muhammad bin Saud merupakan penguasa Diriyah. Dari pusat kekuasaan tersebut kemudian berkembang sebuah entitas politik yang dikenal sebagai Negara Saudi Pertama.

Negara Saudi Pertama secara resmi berdiri pada 1727, ketika Imam Muhammad bin Saud memimpin Diriyah dan membangun fondasi pemerintahan yang kemudian berkembang menjadi kekuasaan Saudi.

Perkembangan tersebut bukanlah hasil dari klaim sebagai keturunan Nabi, melainkan proses politik dan pemerintahan yang berlangsung di wilayah Najd.

Persekutuan Muhammad bin Saud dan Muhammad bin Abdul Wahhab

Salah satu titik penting dalam sejarah awal kekuasaan Saudi adalah hubungan antara Muhammad bin Saud dan ulama Muhammad bin Abdul Wahhab.

Keduanya membangun sebuah persekutuan pada pertengahan abad ke-18 yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting perkembangan politik dan keagamaan di Najd.

Persekutuan tersebut memiliki dampak besar terhadap perluasan pengaruh politik keluarga Al Saud.

Dengan dukungan politik dan gerakan keagamaan yang berkembang pada masa itu, kekuasaan Saudi kemudian meluas ke berbagai wilayah di Jazirah Arab.

Namun, Negara Saudi Pertama akhirnya berhadapan dengan Kesultanan Utsmaniyah dan pasukan Mesir yang dikirim Muhammad Ali Pasha.

Pada 1818, Diriyah jatuh dan Negara Saudi Pertama berakhir.

Al Saud Kembali Berkuasa

Berakhirnya Negara Saudi Pertama tidak menghapus kekuasaan keluarga Al Saud.

Beberapa tahun kemudian, keluarga tersebut kembali membangun kekuasaan melalui Negara Saudi Kedua, yang berpusat di Riyadh.

Namun, kekuasaan Saudi kembali mengalami konflik internal dan akhirnya berakhir pada akhir abad ke-19.

Keluarga Al Saud kemudian bangkit kembali melalui perjuangan Abdulaziz bin Abdul Rahman Al Saud, yang lebih dikenal sebagai Ibn Saud.

Pada 1902, Ibn Saud berhasil merebut kembali Riyadh.

Dari titik tersebut, proses penyatuan berbagai wilayah di Jazirah Arab terus berlangsung selama beberapa dekade.

Hingga akhirnya pada 23 September 1932, wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan Abdulaziz disatukan menjadi negara yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Arab Saudi.

Abdulaziz Ibn Saud menjadi raja pertama kerajaan tersebut.

Jadi, Apa yang Menjadikan Al Saud Raja?

Di sinilah pentingnya membedakan antara nasab dan kekuasaan politik.

Keturunan Nabi Muhammad SAW merupakan persoalan nasab atau garis keturunan.

Sementara menjadi kepala pemerintahan merupakan persoalan politik dan sejarah pembentukan negara.

Keduanya tidak otomatis merupakan hal yang sama.

Dalam sejarah Islam, berbagai wilayah pernah diperintah oleh dinasti atau penguasa yang memiliki latar belakang nasab berbeda-beda.

Karena itu, seseorang tidak harus merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW untuk menjadi penguasa suatu wilayah.

Kekuasaan politik dalam sejarah terbentuk melalui berbagai faktor, antara lain kepemimpinan, dukungan masyarakat atau kelompok politik, kekuatan militer, legitimasi pemerintahan, hubungan antarkelompok dan proses pembentukan negara.

Bagaimana dengan Makkah dan Madinah?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik karena Kerajaan Arab Saudi saat ini menguasai dua kota yang sangat penting bagi umat Islam, yakni Makkah dan Madinah.

Kedua kota tersebut memiliki kedudukan sangat istimewa dalam sejarah Islam.

Makkah merupakan tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW dan lokasi Ka’bah, sedangkan Madinah merupakan kota tempat Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat Islam serta menjadi tempat beliau dimakamkan.

Namun, status sebagai penguasa politik atas kedua kota tersebut tidak berarti bahwa penguasanya harus memiliki hubungan nasab langsung dengan Nabi.

Dalam perjalanan sejarah, Makkah dan Madinah pernah berada di bawah pemerintahan berbagai dinasti dan kekuatan politik yang berbeda.

Penguasaan politik terhadap suatu wilayah dan hubungan genealogis dengan Nabi merupakan dua persoalan yang harus dibedakan.

Nasab Nabi dan Dinasti Politik adalah Dua Hal Berbeda

Ada pula keturunan Nabi Muhammad SAW yang tersebar di berbagai wilayah dunia Islam.

Mereka umumnya dikenal melalui jalur keturunan dari Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain, putra Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW.

Namun, keberadaan seseorang sebagai keturunan Nabi tidak secara otomatis menjadikannya penguasa politik.

Sebaliknya, seorang penguasa tidak harus merupakan keturunan Nabi untuk memiliki pemerintahan atas suatu wilayah.

Sejarah dunia Islam menunjukkan bahwa nasab, otoritas keagamaan dan kekuasaan politik merupakan konsep yang dapat saling berhubungan, tetapi tidak selalu identik.

Sejarah Saudi Menunjukkan Proses Pembentukan Kekuasaan

Karena itu, jika pertanyaannya adalah “Mengapa Raja Arab Saudi bisa menjadi raja meskipun bukan keturunan Nabi Muhammad SAW?”, jawabannya terletak pada sejarah terbentuknya negara tersebut.

Keluarga Al Saud membangun kekuasaan politiknya melalui Diriyah, membentuk Negara Saudi Pertama, mengalami keruntuhan, kembali mendirikan Negara Saudi Kedua, kemudian bangkit kembali melalui Abdulaziz Ibn Saud hingga akhirnya berhasil menyatukan berbagai wilayah dan mendirikan Kerajaan Arab Saudi pada 1932.

Dengan kata lain, Al Saud menjadi dinasti penguasa bukan karena klaim sebagai keturunan Nabi, tetapi melalui proses sejarah dan politik yang membentuk Kerajaan Arab Saudi.

Hal ini sekaligus memberikan pelajaran penting dalam memahami sejarah dunia Islam.

Nasab kepada Nabi Muhammad SAW adalah persoalan keturunan. Sementara kekuasaan negara adalah persoalan sejarah dan politik.

Keduanya tidak boleh dicampuradukkan.

Justru di situlah menariknya sejarah Islam: perjalanan umat Islam tidak hanya dibentuk oleh garis keturunan, tetapi juga oleh munculnya berbagai pusat kekuasaan, dinasti, kerajaan, ulama, masyarakat dan negara dengan latar belakang yang sangat beragam.

Sejarah bukan sekadar pertanyaan tentang “siapa keturunan siapa”, tetapi juga tentang bagaimana sebuah masyarakat dan pemerintahan terbentuk, berkembang, bertahan, runtuh, kemudian bangkit kembali.

Dan perjalanan keluarga Al Saud dari Diriyah hingga Kerajaan Arab Saudi modern merupakan salah satu contoh penting dalam sejarah politik Jazirah Arab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *