Tan Malaka dan Pelajaran tentang Kebenaran: Mengapa Kenyataan Pahit Sering Sulit Diterima?
JAKARTA – Kenyataan tidak selalu datang dalam bentuk yang menyenangkan. Ada kalanya fakta justru terasa pahit karena memaksa seseorang menerima sesuatu yang selama ini tidak ingin dilihat.
Gagasan tersebut kerap dikaitkan dengan sosok Tan Malaka, tokoh pergerakan dan pemikir Indonesia yang banyak berbicara mengenai pentingnya berpikir kritis, keberanian menghadapi kenyataan, serta penggunaan akal dalam memahami persoalan.
Salah satu kutipan yang beredar di media sosial berbunyi:
“Orang lebih nyaman dibohongi hal indah daripada disadarkan kenyataan pahit. Makanya manipulasi selalu laku.”
Namun, atribusi kalimat tersebut kepada Tan Malaka perlu disikapi secara hati-hati karena sumber primer yang menunjukkan bahwa kalimat itu merupakan tulisan atau ucapan asli Tan Malaka tidak jelas.
Terlepas dari persoalan atribusinya, pesan yang terkandung dalam kalimat tersebut dapat menjadi bahan refleksi mengenai cara manusia menerima informasi.
Seseorang terkadang lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan harapan, keyakinan, atau kepentingannya. Sebaliknya, informasi yang bertentangan dengan pandangan pribadi dapat lebih sulit diterima, bahkan ketika informasi tersebut didukung oleh fakta.
Di tengah derasnya arus informasi digital, persoalan tersebut menjadi semakin relevan.
Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Potongan pernyataan, judul berita, video pendek, maupun unggahan media sosial dapat membentuk persepsi sebelum seseorang memeriksa konteks dan sumber informasinya.
Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi penting.
Tidak cukup hanya bertanya, “Apakah informasi ini sesuai dengan yang ingin saya dengar?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Dari mana informasi tersebut berasal?
Apa buktinya?
Apakah sumbernya dapat dipercaya?
Apakah ada konteks yang sengaja dihilangkan?
Dan yang tidak kalah penting, apakah kita bersedia menerima fakta apabila ternyata fakta tersebut berbeda dengan keyakinan kita?
Kebenaran tidak selalu memberikan rasa nyaman. Namun, menerima kenyataan merupakan bagian penting dari proses belajar dan mengambil keputusan secara rasional.
Manipulasi informasi juga dapat berkembang ketika seseorang hanya mencari informasi yang menguatkan pandangannya sendiri. Dalam kondisi seperti itu, informasi yang menyenangkan mudah dipercaya, sementara fakta yang tidak sesuai dengan harapan cenderung ditolak.
Karena itu, literasi informasi bukan hanya kemampuan menemukan informasi, tetapi juga kemampuan memeriksa, membandingkan, memahami konteks, dan membedakan fakta dari opini.
Kenyataan mungkin pahit.
Namun, menghadapi kenyataan dengan pikiran terbuka dapat membantu seseorang melihat persoalan secara lebih jernih.
Dan satu hal penting perlu diingat: jangan menerima sebuah kutipan hanya karena nama besar yang tercantum di bawahnya. Periksa pula sumber aslinya.
Sebab mencari kebenaran juga berarti berani memeriksa sesuatu yang bahkan terasa sudah kita yakini.
