Warga Kalbar Dibayar Memotret Satwa Liar, Orangutan Bisa Bernilai Rp130 Ribu

0
1789830147300-1

Kalimantan Barat – Aktivitas mencari satwa liar di hutan selama ini kerap identik dengan perburuan. Namun, pendekatan berbeda kini diterapkan di sejumlah desa di Kalimantan Barat. Warga justru mendapatkan penghasilan dengan mengamati, memotret, atau merekam suara satwa liar tanpa harus menangkapnya.

Skema tersebut dijalankan melalui program konservasi KehatiKu yang dikelola Borneo Futures. Program ini melibatkan masyarakat di sembilan desa di Kalimantan Barat untuk mendokumentasikan keberadaan berbagai jenis satwa di habitat alaminya.

Warga dapat menggunakan ponsel, termasuk perangkat yang dilengkapi lensa telefoto, untuk mengambil foto, video, atau merekam suara satwa yang mereka temukan. Hasil pengamatan kemudian dikirimkan melalui sistem yang disediakan program untuk diverifikasi.

Besaran insentif berbeda-beda sesuai jenis satwa dan hasil verifikasi. Pengamatan burung yang umum ditemukan dapat dihargai sekitar Rp5.000, sedangkan dokumentasi orangutan dapat mencapai sekitar Rp130.000.

Peserta yang aktif bahkan dilaporkan dapat memperoleh penghasilan hingga sekitar Rp10 juta dalam satu bulan.

Mengubah Nilai Ekonomi Satwa

Program KehatiKu mencoba mengubah cara masyarakat memandang nilai ekonomi satwa liar.

Direktur Borneo Futures Indonesia Nardiyono menjelaskan kepada AFP bahwa sebelumnya sebagian warga dapat memperoleh sekitar Rp50.000 dari menangkap seekor burung. Melalui skema baru, warga dapat memperoleh bayaran dengan memotret dan mengirimkan dokumentasi satwa tersebut.

Dengan begitu, satwa tidak perlu ditangkap untuk menghasilkan manfaat ekonomi. Burung yang tetap berada di alam masih dapat berkembang biak dan berpotensi kembali didokumentasikan pada kesempatan berikutnya.

Perubahan tersebut mulai menunjukkan dampak di tingkat masyarakat. Dua desa peserta program disebut telah secara sukarela menerapkan larangan berburu sejak program berjalan.

Orangutan Jadi Salah Satu Satwa Bernilai Tinggi

Orangutan termasuk satwa dengan nilai insentif tinggi dalam program tersebut. Ketika menemukan orangutan, peserta dapat mendokumentasikannya dari jarak aman menggunakan perangkat yang tersedia.

Foto atau rekaman kemudian dikirim untuk diverifikasi. Data yang lolos verifikasi tidak hanya memberikan insentif kepada pengamat, tetapi juga menjadi bagian dari kumpulan informasi mengenai keberadaan dan persebaran satwa liar.

Borneo Futures menyebut lebih dari 350.000 pengamatan telah dikirimkan melalui program tersebut. Sekitar separuhnya telah divalidasi dan mendapatkan pembayaran. Data tersebut digunakan untuk membantu memahami persebaran satwa serta perubahan populasi di wilayah pengamatan.

Petani Mendapat Penghasilan Tambahan

Peserta program sebagian besar merupakan masyarakat yang tetap menjalankan pekerjaan utama sebagai petani. Mereka antara lain menanam padi, kakao, durian, hingga kratom.

Artinya, aktivitas pengamatan satwa tidak harus dilakukan sebagai pekerjaan utama. Warga dapat mendokumentasikan satwa ketika sedang menjalankan kegiatan sehari-hari di sekitar kebun atau hutan.

Salah satu peserta, Octavius, 50 tahun, menggunakan telepon seluler yang dilengkapi lensa telefoto untuk mengamati orangutan, monyet, dan burung.

Dalam pembayaran bulanan yang dilaporkan pada September 2026, Octavius menerima sekitar Rp4 juta dari hasil pengamatan. Ia menyebut penghasilan tersebut membantu kebutuhan keluarganya, termasuk biaya pendidikan anak.

Octavius juga menjelaskan bahwa aktivitas tersebut merupakan pekerjaan sampingan yang tidak mengganggu pekerjaannya sebagai petani. Ketika sedang mengumpulkan daun kratom dan mendengar suara burung, misalnya, ia dapat mendekati sumber suara untuk mengamati atau merekamnya apabila kondisi memungkinkan.

Konservasi Sekaligus Penghasilan

KehatiKu mencoba membangun hubungan ekonomi baru antara masyarakat dan satwa liar. Warga memperoleh insentif ketika satwa tetap hidup dan dapat diamati di habitatnya.

Model tersebut berbeda dari pendekatan konservasi yang hanya meminta masyarakat menjaga satwa tanpa memberikan manfaat ekonomi secara langsung. Dalam program ini, keberadaan satwa justru menjadi sumber data sekaligus memberikan insentif kepada masyarakat yang melakukan pengamatan.

Namun, keberlanjutan model tersebut tetap bergantung pada pendanaan dan konsistensi insentif. Peneliti yang dikutip dalam laporan mengenai program ini juga mengingatkan bahwa perubahan perilaku masyarakat perlu didukung dalam jangka panjang agar manfaat konservasi dapat bertahan.

Borneo Futures menyatakan pendanaan program saat ini telah tersedia hingga 2028. Program tersebut juga direncanakan terus diperluas ke desa-desa lainnya.

Pada akhirnya, satu foto orangutan, burung, monyet, atau satwa liar lainnya bukan sekadar gambar. Dalam model KehatiKu, dokumentasi tersebut dapat menjadi data untuk konservasi sekaligus sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat.

Pendekatan ini menunjukkan salah satu cara yang sedang diuji di Kalimantan Barat untuk mempertemukan kepentingan ekonomi masyarakat dengan upaya menjaga satwa liar tetap hidup di habitat alaminya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *