J. H. Hutasoit, Peletak Dasar Kemandirian Peternakan dan Perikanan Indonesia
JAKARTA — Prof. Dr. Drh. Jannes Humuntal Hutasoit atau J. H. Hutasoit merupakan salah satu tokoh yang memiliki jejak penting dalam sejarah pembangunan sektor peternakan dan perikanan Indonesia.
Lahir di Tapanuli, Sumatera Utara, pada 16 September 1925, Hutasoit dikenal sebagai akademisi sekaligus birokrat yang mengabdikan keilmuan dan pengalamannya untuk pembangunan sektor pertanian, khususnya peternakan.
Perjalanan pengabdiannya di dunia pendidikan menjadi salah satu bagian penting dari kiprahnya. Hutasoit tercatat sebagai salah satu pendiri sekaligus Dekan Pertama Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), yang kini dikenal sebagai IPB University.
Dari lingkungan akademik, pemikirannya banyak diarahkan pada kebutuhan membangun sumber daya manusia yang mampu mengembangkan peternakan Indonesia berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Salah satu warisan akademiknya berkaitan dengan pengembangan kurikulum Ilmu Makanan Ternak. Bidang tersebut menjadi bagian penting dalam pendidikan peternakan karena ketersediaan pakan merupakan salah satu faktor utama dalam peningkatan produktivitas dan populasi ternak.
Karier Hutasoit kemudian berlanjut ke pemerintahan. Ia dipercaya menjabat sebagai Direktur Jenderal Peternakan pada periode 1971–1982 sebelum kemudian mendapat amanah sebagai Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Peternakan dan Perikanan pada Kabinet Pembangunan IV periode 1983–1988 di bawah pemerintahan Presiden Soeharto.
Ketika berada di pemerintahan, Indonesia menghadapi berbagai tantangan dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat. Persoalan ketersediaan daging, produktivitas ternak, pengembangan industri perunggasan hingga pengendalian penyakit hewan menjadi bagian dari tantangan pembangunan sektor tersebut.
Dalam menghadapi persoalan ketersediaan ternak, kebijakan untuk memperkuat populasi ternak domestik menjadi salah satu perhatian. Pengendalian ekspor sapi dan kerbau disebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan ketersediaan ternak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Pada sektor perunggasan, pengembangan produksi juga terus didorong untuk memperluas ketersediaan sumber protein hewani yang relatif terjangkau bagi masyarakat.
Salah satu persoalan besar yang turut menjadi perhatian pada masa pengabdiannya adalah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), penyakit menular pada hewan berkuku belah yang dapat memberikan dampak ekonomi besar terhadap peternakan.
Upaya pengendalian penyakit tersebut dilakukan melalui kebijakan kesehatan hewan, termasuk vaksinasi dan langkah-langkah pengawasan untuk membatasi penyebaran penyakit pada populasi ternak.
Bagi Hutasoit, pembangunan peternakan tidak dapat hanya bertumpu pada kebijakan administratif. Penguatan pendidikan, penelitian, teknologi, sumber daya manusia dan perlindungan terhadap peternak menjadi bagian yang saling berkaitan dalam membangun sektor peternakan nasional.
Kiprahnya juga menunjukkan hubungan erat antara dunia akademik dan pemerintahan. Pengetahuan yang diperoleh dari lingkungan pendidikan dan penelitian dibawa ke ruang kebijakan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
J. H. Hutasoit wafat di Jakarta pada 17 Maret 1996 dalam usia 70 tahun. Meski telah meninggalkan dunia, perjalanan pengabdiannya tetap menjadi bagian dari catatan sejarah pembangunan peternakan Indonesia.
Warisan pemikirannya mengingatkan bahwa ketahanan pangan dan kemandirian protein hewani membutuhkan pembangunan jangka panjang yang ditopang oleh ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan publik serta keberpihakan terhadap pengembangan peternakan rakyat.
Dari ruang akademik hingga pemerintahan, Hutasoit meninggalkan jejak seorang ilmuwan yang memilih mengabdikan pengetahuannya untuk kepentingan masyarakat.
Namanya menjadi bagian dari perjalanan panjang Indonesia dalam membangun sektor peternakan dan perikanan yang lebih mandiri.
HORAS!
