Rizkan Al Mubarok: Indonesia Emas 2045 Bukan Sekadar Menunggu Tahun, Harus Dimulai dari Apa yang Dikerjakan Hari Ini
SOROTAN PUBLIK — Tokoh publik dan tokoh pers, Rizkan Al Mubarrok, mempertanyakan cara sebagian elite Indonesia membicarakan cita-cita Indonesia Emas 2045 dan proyeksi Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia pada 2050.
Menurut Rizkan, kebesaran sebuah bangsa bukan sesuatu yang otomatis datang hanya karena sebuah negara telah menetapkan tahun target. Kemajuan tidak bekerja seperti perjalanan kereta api yang cukup ditunggu sampai tiba di stasiun tujuan.
“Seolah-olah kebesaran adalah kereta api. Kita cukup membeli tiket, duduk, lalu pada tahun 2050 kondektur akan berteriak, selamat, kita sudah tiba di negara maju,” ujar Rizkan dalam pandangannya.
Bagi Rizkan, sejarah menunjukkan bahwa negara-negara yang berhasil menjadi kekuatan ekonomi dan teknologi dunia tidak membangun masa depannya hanya dengan membuat proyeksi. Mereka mengerjakannya selama puluhan tahun melalui riset, pendidikan, industri, teknologi, investasi, sumber daya manusia, serta pembangunan rantai pasok yang kuat.
Rizkan mencontohkan China dalam pengembangan industri rare earth atau mineral tanah jarang.
Ketika China berbicara mengenai masa depan rare earth, kata Rizkan, pembicaraan tersebut tidak berhenti pada pidato atau ramalan. Sejak dekade 1980-an, China mulai membangun kemampuan pertambangan, pemisahan, pemurnian, metalurgi, material maju, magnet permanen, tenaga ahli, industri pengguna hingga rantai pasok.
“Pada 1992, Deng Xiaoping pernah menyatakan bahwa Timur Tengah mempunyai minyak, sedangkan China mempunyai rare earth. Itu bukan sekadar ramalan. Itu menunjukkan keyakinan terhadap sesuatu yang sedang dibangun negaranya,” kata Rizkan.
Menurutnya, pengalaman China memberikan pelajaran penting bagi Indonesia bahwa penguasaan sumber daya alam akan jauh lebih strategis apabila diikuti kemampuan teknologi dan industri yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
Hari ini, China dikenal sebagai pemain dominan dalam pemrosesan rare earth dan produksi magnet permanen berbasis rare earth. Bagi Rizkan, pelajaran terpenting bukan sekadar angka penguasaan pasar tersebut, melainkan proses panjang yang dilakukan sebelum dunia menyadari betapa pentingnya posisi China dalam rantai pasok global.
“Itulah perbedaan antara mempunyai masa depan dan membicarakan masa depan,” tegasnya.
Rizkan menilai teknologi membutuhkan waktu yang panjang. Riset dasar membutuhkan waktu untuk berkembang menjadi paten. Paten membutuhkan modal dan rekayasa untuk menjadi prototipe. Prototipe membutuhkan engineering untuk menjadi produk. Produk membutuhkan industri dan rantai pasok. Selanjutnya, sebuah industri membutuhkan pasar, reputasi, standar, serta manusia terampil agar mampu menjadi pemain global.
Karena itu, menurut Rizkan, pertanyaan yang jauh lebih penting bagi Indonesia bukan sekadar apa yang ingin dicapai pada 2045 atau 2050.
“Pertanyaan yang relevan adalah: apa yang sedang kita kerjakan pada 2026 yang akan dibutuhkan dunia pada 2036 sampai 2050?” ujarnya.
Ia mengingatkan, Indonesia tidak mungkin baru mulai membangun fondasi teknologi ketika sudah mendekati tahun 2049, kemudian berharap pada tahun berikutnya langsung berubah menjadi negara maju.
“Tidak mungkin pada 2049 kita baru mengadakan rapat koordinasi, lalu tahun berikutnya menjadi negara maju,” katanya.
Rizkan juga menilai kekayaan sumber daya alam tidak secara otomatis menjadikan sebuah negara sebagai kekuatan teknologi.
Indonesia memang memiliki kekayaan mineral, energi, hutan, laut dan berbagai sumber daya lainnya. Namun, menurutnya, sumber daya alam yang pengolahannya masih sangat bergantung pada teknologi dan mesin dari negara lain belum sepenuhnya dapat disebut sebagai kekuatan teknologi nasional.
“Tambang yang menghasilkan devisa tentu bernilai ekonomi. Tetapi menggali sesuatu yang sudah tersedia di dalam tanah berbeda dengan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada,” ujar Rizkan.
Hal yang sama, menurutnya, berlaku terhadap bonus demografi.
Jumlah penduduk yang besar merupakan peluang, tetapi tidak otomatis menjadi kekuatan ekonomi apabila mayoritas penduduk tidak memperoleh pendidikan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
“Negara besar bukan sekadar negara yang mempunyai banyak manusia. Negara besar adalah negara yang mempunyai banyak manusia yang mampu menghasilkan sesuatu yang sulit dibuat oleh negara lain,” katanya.
Rizkan kemudian mencontohkan Jepang, Korea Selatan dan Taiwan. Menurutnya, kekuatan ketiga wilayah tersebut bukan semata-mata karena besarnya sumber daya alam atau luas wilayah, melainkan karena kemampuan manusia dan industri mereka menghasilkan produk serta teknologi yang dibutuhkan dunia.
“Ketika negara lain berkata, kami membutuhkan apa yang kalian bisa buat, di situlah bargaining power sebuah negara benar-benar lahir,” ujar Rizkan.
Ia menilai Indonesia harus mulai memikirkan bidang-bidang strategis yang dapat menjadi kekuatan nasional dalam beberapa dekade mendatang. Bukan hanya pertambangan, tetapi juga teknologi, semikonduktor, energi baru, kecerdasan buatan, bioteknologi, industri pertahanan, material maju, teknologi kelautan, pangan, kesehatan, serta berbagai bidang yang memiliki nilai strategis bagi dunia.
Bagi Rizkan, kekuatan terbesar sebuah negara pada akhirnya bukan hanya berasal dari apa yang dimiliki hari ini, tetapi dari kemampuan menciptakan pengetahuan baru secara berkelanjutan.
“Sumber daya alam pada akhirnya bisa habis. Upah murah akhirnya akan naik. Bonus demografi akhirnya akan menua. Tetapi pengetahuan bisa terus berkembang,” katanya.
Menurutnya, seorang ilmuwan dapat mendidik ilmuwan berikutnya. Laboratorium dapat melahirkan paten. Paten dapat melahirkan perusahaan. Perusahaan dapat membangun rantai pasok. Rantai pasok menciptakan keterampilan. Keterampilan kemudian melahirkan teknologi generasi berikutnya.
“Itulah compound interest sebuah peradaban,” tegas Rizkan.
Karena itu, Rizkan mengaku tidak ingin sekadar mendengar berbagai proyeksi bahwa Indonesia akan menjadi negara besar pada 2045 atau kekuatan ekonomi dunia pada 2050.
Ia justru ingin melihat bukti dari pekerjaan yang dilakukan hari ini: berapa banyak laboratorium yang dibangun, berapa banyak peneliti yang lahir, berapa banyak paten yang menjadi produk, berapa banyak perusahaan teknologi nasional yang mampu menembus pasar global, dan berapa banyak rantai pasok strategis yang benar-benar dikuasai Indonesia.
“Jangan sampai Indonesia hanya pandai membuat kalender target, tetapi terlambat membangun kemampuan yang dibutuhkan ketika tahun target itu tiba,” kata Rizkan.
Menurutnya, optimisme terhadap masa depan Indonesia tetap penting. Namun optimisme harus disertai kerja keras, disiplin kebijakan, keberanian melakukan investasi jangka panjang, pendidikan berkualitas, riset yang serius, serta konsistensi lintas pemerintahan.
Indonesia Emas 2045, menurut Rizkan, seharusnya bukan sekadar slogan pembangunan, melainkan proyek peradaban yang dimulai sejak sekarang.
“Kalau kita benar-benar ingin Indonesia menjadi negara besar, jangan hanya bertanya akan menjadi apa kita pada 2050. Tanyakan apa yang sedang kita bangun pada 2026. Karena masa depan Indonesia tidak akan lahir dari pidato tentang masa depan. Masa depan akan lahir dari pekerjaan yang kita lakukan hari ini,” pungkas Rizkan.
Kebenaran, keberanian dan kerja nyata harus menjadi fondasi menuju Indonesia yang kuat, berdaulat, maju, serta mampu menghasilkan teknologi dan pengetahuan yang dibutuhkan dunia.
