Haji Jaelani, Orang Rimba Jambi yang Simpan Rp1,5 Miliar di Dalam Hutan hingga Ditolak Bank karena Tak Punya KTP
Sorotan Publik — Kisah Haji Jaelani, warga Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Provinsi Jambi, menjadi cerita unik tentang perjuangan ekonomi, keterbatasan akses administrasi, hingga perjalanan mengenal sistem perbankan.
Jaelani disebut berhasil mengumpulkan uang sekitar Rp1,5 miliar selama kurang lebih satu dekade dari hasil jerih payah mengelola perkebunan kelapa sawit dan karet miliknya.
Namun, karena hidup di kawasan pedalaman dan belum terbiasa dengan sistem perbankan, uang yang dikumpulkannya tersebut justru disimpan dengan cara tidak biasa: dikemas menggunakan kantong plastik hitam kemudian dikubur di kawasan perbukitan dalam hutan.
Uang Rp1,5 Miliar Dikubur di Dalam Hutan
Bagi Jaelani, menyimpan uang di dalam tanah merupakan pilihan yang dianggap aman pada saat itu.
Ia bahkan mendirikan pondok sementara di atas lokasi tempat uang tersebut dikuburkan. Cara tersebut dilakukan karena akses terhadap layanan keuangan formal masih terbatas dan kehidupan sehari-harinya berlangsung di kawasan hutan.
Setelah bertahun-tahun menyimpan hasil jerih payahnya secara tunai, Jaelani kemudian memutuskan membawa uang tersebut ke sebuah bank di Kota Bangko, Kabupaten Merangin.
Harapannya sederhana: uang yang selama ini disimpan sendiri dapat ditempatkan di lembaga keuangan yang lebih aman.
Namun, niat tersebut belum dapat direalisasikan karena persoalan administrasi.
Jaelani saat itu disebut belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan tidak mempunyai alamat domisili formal yang jelas karena selama ini tinggal di kawasan hutan.
Dengan kondisi tersebut, proses pembukaan rekening dan penyimpanan uang dalam jumlah besar tidak dapat dilakukan sebagaimana nasabah pada umumnya.
Viral dan Membuat Jaelani Khawatir
Kisah uang miliaran rupiah yang disimpan di dalam hutan kemudian menarik perhatian masyarakat.
Namun, viralnya informasi tersebut justru membuat Jaelani merasa khawatir. Ia takut keberadaan uang yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun diketahui banyak orang.
Setelah peristiwa tersebut, ia memilih tidak lagi menyimpan uangnya dengan cara dikubur di dalam tanah.
Sebagian hartanya kemudian digunakan untuk membeli lahan perkebunan baru. Ia juga membangun rumah permanen di kawasan permukiman warga transmigrasi agar dapat hidup lebih dekat dengan masyarakat luas.
Sebagian lainnya digunakan untuk memenuhi salah satu impiannya bersama sang istri, yakni mendaftarkan diri untuk menunaikan ibadah haji.
Dari Pedalaman Jambi hingga Penghargaan Kalpataru
Kisah Jaelani juga tidak dapat dilepaskan dari kehidupannya sebagai bagian dari masyarakat Orang Rimba yang hidup berdampingan dengan kawasan hutan.
Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki perhatian terhadap lingkungan. Jaelani bahkan pernah menerima penghargaan Kalpataru pada 2006.
Perjalanan hidupnya memperlihatkan sisi lain masyarakat pedalaman Jambi yang selama bertahun-tahun menghadapi keterbatasan akses terhadap administrasi kependudukan, layanan keuangan, pendidikan, kesehatan, maupun berbagai fasilitas publik lainnya.
Kisah Rp1,5 miliar yang pernah dikuburnya di dalam hutan pada akhirnya bukan hanya cerita mengenai jumlah uang yang fantastis.
Di baliknya terdapat persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana negara memastikan masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pelayanan tetap memiliki akses yang mudah terhadap identitas kependudukan dan layanan keuangan formal.
Bagi masyarakat perkotaan, memiliki KTP dan rekening bank mungkin merupakan hal biasa.
Namun bagi sebagian masyarakat yang hidup jauh di pedalaman, akses tersebut dapat menjadi perjalanan panjang.
Kisah Haji Jaelani menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak cukup hanya menghadirkan jalan dan infrastruktur. Negara juga perlu memastikan bahwa masyarakat yang hidup di wilayah terpencil mendapatkan akses terhadap identitas hukum, layanan keuangan, serta kesempatan ekonomi yang setara.
Dari uang yang pernah dikubur di tengah hutan hingga impian menunaikan ibadah haji, perjalanan Haji Jaelani menjadi salah satu kisah unik dari Jambi yang memperlihatkan bagaimana ketekunan, keterbatasan akses, dan perubahan kehidupan dapat bertemu dalam satu cerita.
