Kapolri Laporkan 1.376 Dapur Gizi MBG Dibangun, Polri Target Layani Jutaan Masyarakat pada 2026
SOROTAN PUBLIK – Kapolri Listyo Sigit Prabowo melaporkan kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bahwa hingga pertengahan Mei 2026, Polri telah membangun 1.376 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bagian dari dukungan terhadap program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 736 unit telah beroperasi, 172 unit memasuki tahap persiapan, sementara 468 unit lainnya masih dalam proses pembangunan. Polri menargetkan total 1.500 SPPG dapat terealisasi sepanjang 2026.
Program ini diproyeksikan memberi manfaat kepada sekitar 3,44 juta masyarakat sekaligus membuka peluang penyerapan tenaga kerja hingga 68.800 orang.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa program pemenuhan gizi nasional tidak hanya berorientasi pada aspek kesehatan masyarakat, tetapi juga diarahkan untuk mendorong dampak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan aktivitas ekonomi lokal.
Selain memperluas layanan gizi, Polri juga memperhatikan pemerataan pembangunan dengan membangun 33 SPPG di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Langkah ini dinilai penting untuk memastikan akses pelayanan publik menjangkau wilayah yang selama ini menghadapi tantangan infrastruktur dan distribusi.
Menariknya, inovasi juga mulai diterapkan dalam operasional dapur gizi. Sebanyak 47 SPPG disebut mulai memanfaatkan teknologi energi terbarukan melalui penggunaan Compressed Natural Gas (CNG).
Penggunaan energi tersebut dinilai strategis karena lebih efisien, aman, serta mendukung pendekatan pembangunan berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan.
Kapolri menegaskan bahwa penyediaan pangan dan pemenuhan gizi merupakan fondasi utama pembangunan bangsa.
“Penyediaan pangan menjadi fondasi penting membangun generasi sehat, kuat, dan berdaya saing,” tegas Sigit.
Dari perspektif pembangunan nasional, program Makan Bergizi Gratis dipandang bukan sekadar agenda bantuan sosial.
Program ini mulai dibangun sebagai ekosistem besar yang menghubungkan sektor kesehatan, ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja, hingga pembangunan sumber daya manusia jangka panjang.
Jika berjalan konsisten, program tersebut berpotensi menjadi salah satu investasi sosial terbesar dalam mempersiapkan generasi Indonesia masa depan.
