Kontraktor Tiongkok Lanjutkan Warisan Cheng Ho di Semarang melalui Pembangunan Tol Tanggul Pertama

0
IMG-20260828-WA0048(2)

Sorotan Publik — Semarang bukan hanya dikenal sebagai salah satu kota pelabuhan penting di pesisir utara Jawa, tetapi juga memiliki jejak sejarah panjang hubungan Indonesia dan Tiongkok. Pada abad ke-15, navigator Tiongkok Zheng He, yang lebih dikenal di Indonesia sebagai Laksamana Cheng Ho, tercatat beberapa kali singgah dalam rangkaian pelayaran maritimnya.

Jejak sejarah tersebut hingga kini masih dapat ditemukan, salah satunya melalui keberadaan Kelenteng Sam Poo Kong yang menjadi salah satu simbol sejarah hubungan Indonesia dan Tiongkok.

Berabad-abad kemudian, hubungan tersebut kembali hadir dalam bentuk kerja sama pembangunan infrastruktur. Di kawasan pesisir utara Semarang, kontraktor asal Tiongkok China Road and Bridge Corporation (CRBC) terlibat dalam pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 1B.

Proyek tersebut dirancang bukan hanya sebagai jalur transportasi, tetapi juga memiliki fungsi sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir dan rob di kawasan pesisir.

Tol Semarang-Demak Hadirkan Konsep Jalan Tol Tanggul

Di lokasi pembangunan, aktivitas konstruksi berlangsung selama 24 jam. Yue Zhenhong, manajer proyek pengembangan Jalan Tol Semarang-Demak 1B, memimpin pekerjaan konstruksi yang menghadapi tantangan kondisi tanah pesisir.

Lebih dari 1.000 truk pengangkut material disebut beroperasi untuk mendukung pekerjaan konstruksi. Tim proyek juga menerapkan sistem kerja bergiliran selama 24 jam untuk mengejar penyelesaian pekerjaan penggalian tanah dasar sebelum musim hujan.

Semarang dan Demak sama-sama berada di kawasan pesisir utara Jawa Tengah. Jalur yang menghubungkan kedua wilayah tersebut selama bertahun-tahun menghadapi persoalan kepadatan lalu lintas sekaligus ancaman banjir rob.

Pembangunan jalan tol tersebut diharapkan dapat menjawab kedua persoalan itu secara bersamaan. Selain meningkatkan konektivitas transportasi, jalan tol juga dirancang menjadi bagian dari infrastruktur pengendalian banjir di kawasan pesisir.

Setelah rampung dan beroperasi sesuai target, waktu perjalanan antara Semarang dan Demak yang pada kondisi padat dapat mencapai sekitar 60 menit ditargetkan dapat dipangkas menjadi sekitar 10 menit.

Efisiensi perjalanan tersebut diharapkan dapat menekan biaya logistik, memperlancar mobilitas masyarakat, sekaligus memberikan dorongan baru bagi aktivitas ekonomi di kawasan Semarang dan Demak.

Tantangan Tanah Lunak dan Inovasi Bambu

Salah satu tantangan terbesar proyek berada pada kondisi geologi kawasan pesisir. Lapisan tanah lunak di sepanjang jalur konstruksi disebut memiliki kedalaman hingga sekitar 30 meter.

Kondisi tersebut membutuhkan metode khusus untuk meningkatkan daya dukung fondasi, menjaga stabilitas konstruksi, sekaligus mengendalikan penurunan tanah setelah pembangunan selesai.

Yue Zhenhong menjelaskan bahwa tim proyek menyesuaikan metode konstruksi dengan kondisi geologi setempat serta ketersediaan sumber daya.

Salah satu metode yang diterapkan adalah penggunaan tiang dan matras bambu yang dipadukan dengan papan drainase vertikal dan horizontal serta metode prapembebanan tambahan.

Pemanfaatan bambu menjadi salah satu pendekatan yang menarik dalam proyek tersebut. Material lokal itu digunakan sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan material konstruksi dengan emisi karbon lebih tinggi.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya berorientasi pada konektivitas, tetapi juga mulai mempertimbangkan aspek lingkungan dan pemanfaatan sumber daya lokal.

Transfer Keahlian untuk Tenaga Kerja Indonesia

Selama lebih dari dua dekade beroperasi di Indonesia, CRBC disebut telah terlibat dalam berbagai proyek pembangunan infrastruktur.

Kehadiran perusahaan tersebut juga menjadi ruang bagi tenaga kerja Indonesia untuk memperoleh pengalaman melalui kerja sama dengan tenaga ahli asal Tiongkok.

Muhammad Rizky Pradana, insinyur berusia 26 tahun yang terlibat dalam proyek tersebut, mengaku sempat menghadapi tekanan ketika harus mengikuti standar manajemen mutu proyek yang ketat.

Namun, melalui pendampingan dari rekan-rekan asal Tiongkok, ia mengaku dapat menguasai berbagai keterampilan profesional dan metode manajemen baru.

Pengalaman serupa juga dirasakan Mochamad Zumar Habibi, 37 tahun, yang telah bekerja di CRBC selama sekitar satu dekade.

Menurut Habibi, bekerja di perusahaan tersebut tidak hanya meningkatkan pengalaman profesional, tetapi juga membantu meningkatkan taraf hidup keluarganya.

Ia berharap dapat terus bekerja di CRBC hingga memasuki masa pensiun.

Kepedulian terhadap Masyarakat dan Ancaman Banjir Rob

Selain pembangunan jalan tol, masyarakat di sekitar proyek juga merasakan sejumlah bentuk dukungan dari tim proyek.

Kumaidi, perangkat desa setempat, menceritakan bahwa banjir rob telah menjadi persoalan yang menghantui masyarakat selama bertahun-tahun.

Air laut yang meluap hingga hampir satu meter disebut kerap mengganggu aktivitas warga dan membuat akses jalan sulit dilalui.

Tim proyek CRBC kemudian membantu meninggikan jalan pedesaan sepanjang hampir lima kilometer hingga sekitar satu meter.

Peninggian tersebut diharapkan dapat memperkuat akses masyarakat sekaligus meningkatkan kemampuan jalan dalam menghadapi ancaman banjir rob.

Tim proyek juga memasang lampu penerangan di sejumlah titik strategis untuk membantu menerangi jalan yang sebelumnya minim pencahayaan pada malam hari.

Bagi masyarakat setempat, kehadiran kontraktor Tiongkok tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik. Transfer teknologi, pengalaman kerja, dan kegiatan sosial menjadi bagian dari interaksi yang berkembang selama proyek berlangsung.

Kumaidi bahkan menggambarkan kehadiran para pekerja dan kontraktor Tiongkok saat ini sebagai bentuk hubungan yang mengingatkan pada perjalanan Cheng Ho ke Semarang berabad-abad silam.

Jika dahulu armada Cheng Ho datang melalui jalur laut membawa hubungan perdagangan dan persahabatan, kini hubungan Indonesia dan Tiongkok kembali hadir melalui pembangunan infrastruktur, kerja sama teknologi, transfer keahlian, dan interaksi dengan masyarakat.

Jalan Tol Semarang-Demak menjadi salah satu gambaran perubahan bentuk hubungan tersebut dari perjalanan maritim pada masa lalu menuju konektivitas darat dan pembangunan infrastruktur modern yang diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian kawasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *