Prof Sugiyono Bangun Masjid Rp2 Miliar dari Royalti Buku dan Honor Webinar, Bukti Ilmu Bisa Berbuah Amal

0
1787470551415

BANYUMAS — Kisah inspiratif datang dari dunia akademik. Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof. Dr. Sugiyono, menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dapat memberi manfaat di ruang pendidikan, tetapi juga dapat diwujudkan menjadi pengabdian nyata bagi masyarakat.

Prof. Sugiyono membangun sebuah masjid di Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Pembangunan masjid tersebut disebut berasal dari hasil royalti penjualan buku serta honor yang diperolehnya sebagai pembicara dalam berbagai webinar.

Langkah tersebut menjadi gambaran bagaimana konsistensi berkarya selama puluhan tahun dapat menghasilkan manfaat yang jauh melampaui kepentingan pribadi.

Puluhan Tahun Konsisten Menulis Buku

Prof. Sugiyono dikenal sebagai akademisi produktif, terutama dalam bidang metode penelitian dan statistik. Ia merupakan dosen aktif di Jurusan Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Teknik UNY.

Ia menyelesaikan pendidikan doktoral di IKIP Bandung pada 1990. Sejak itu, ia konsisten menghasilkan berbagai karya ilmiah dan buku referensi yang digunakan oleh mahasiswa serta akademisi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Prof. Sugiyono disebut telah menulis sekitar 25 buku, dengan sekitar 20 di antaranya berfokus pada bidang metode penelitian.

Beberapa karya yang dikenal luas antara lain Metode Penelitian Kuantitatif, Metode Penelitian Kualitatif, Metode Penelitian Kombinasi, Metode Penelitian Evaluasi, Statistik Parametris dan Nonparametris, serta buku mengenai cara menulis skripsi, tesis, dan disertasi.

Buku-buku tersebut banyak digunakan sebagai referensi mahasiswa dalam menyusun tugas akhir, mulai dari skripsi hingga tesis dan disertasi.

Dari produktivitas menulis selama bertahun-tahun itulah, royalti buku menjadi salah satu sumber yang kemudian dimanfaatkan untuk pembangunan masjid.

Produktivitasnya Mendapat Pengakuan MURI

Dedikasi Prof. Sugiyono dalam dunia pendidikan juga disebut mendapat pengakuan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Tiga rekor yang dikaitkan dengan kiprahnya antara lain Penulis Terbanyak Bidang Metode Penelitian pada 2018, Penulis Best Seller Terbanyak di Indonesia pada 2019, serta Narasumber Webinar dengan Peserta Terbanyak pada 2020.

Pengakuan tersebut memperkuat reputasinya sebagai akademisi yang produktif dalam menulis, mengajar, melakukan penelitian, dan berbagi pengetahuan kepada masyarakat.

Royalti Buku Berbuah Masjid

Masjid yang dibangun di kampung halamannya tersebut disebut menghabiskan dana sekitar Rp2 miliar. Kini, masjid itu menjadi tempat ibadah sekaligus pusat kegiatan keagamaan masyarakat sekitar.

Bagi Prof. Sugiyono, pembangunan masjid bukan sekadar mendirikan sebuah bangunan. Langkah tersebut menjadi bentuk rasa syukur atas rezeki dan ilmu yang selama ini diperolehnya.

Ia ingin ilmu yang dimiliki tidak hanya berhenti di ruang kuliah, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Sebagai Pembina Sekolah Penelitian Indonesia (SPI), Prof. Sugiyono terus mendorong mahasiswa dan dosen untuk aktif melakukan penelitian dan menulis.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan dapat memberikan dampak yang jauh lebih luas ketika dibagikan dan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.

Prof. Sugiyono memperlihatkan bahwa perjalanan panjang sebagai akademisi, penulis, dan pembicara dapat menghasilkan sesuatu yang bersifat sosial sekaligus spiritual.

Buku menghasilkan ilmu. Ilmu menghasilkan manfaat. Dan manfaat tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk masjid yang dapat digunakan masyarakat.

Kisah ini menjadi gambaran bahwa kesuksesan seorang akademisi tidak selalu harus diukur dari jabatan maupun penghargaan, tetapi juga dari seberapa besar ilmu dan hasil karyanya mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *