Sopir Joko Mulyanto Rela Jual Rumah dan Mobil demi Membiayai 75 Anak Asuh, Rp15 Juta Keluar Tiap Bulan

0
1786798155866

JAKARTA — Kisah pengabdian Joko Mulyanto menjadi gambaran bahwa kepedulian kepada sesama tidak selalu datang dari orang yang memiliki kehidupan serba berkecukupan.

Joko merupakan seorang sopir yang memilih mendedikasikan hidupnya untuk merawat dan membiayai anak-anak yang membutuhkan. Ia bahkan rela menjual rumah dan mobil demi memenuhi kebutuhan puluhan anak asuhnya.

Saat ini, Joko disebut mengasuh sekitar 75 anak. Sebagian dari mereka tinggal di Panti Asuhan Al Hasyim, yang dibangunnya di kawasan Warung Silah, Gang H. Samaan, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Bangunan dua lantai tersebut menjadi tempat tinggal bagi sekitar 25 anak asuh, sementara anak-anak lainnya berada di tempat berbeda dan tetap mendapatkan perhatian serta dukungan dari Joko.

MENJALANI HIDUP SEBAGAI SOPIR, MENANGGUNG PULUHAN ANAK

Sebagai seorang sopir pribadi, penghasilan Joko tentu tidak sebanding dengan besarnya kebutuhan untuk menghidupi puluhan anak.

Namun, ia memilih menjalani tanggung jawab tersebut dengan keyakinan bahwa selalu ada jalan bagi orang yang bersungguh-sungguh membantu sesama.

“Ya standarlah gaji seorang sopir. Kita kalau berpikir secara logika nggak masuk akal. Tapi karena gerakan Allah terlaksana semua,” tutur Joko.

Kebutuhan anak-anak yang diasuhnya meliputi makanan, pendidikan, tempat tinggal, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari.

Joko memperkirakan sedikitnya Rp15 juta harus dikeluarkan setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

“Dalam satu bulan Rp15 juta keluar. Matematika kita sama Allah beda,” ujarnya.

Ia mengatakan dirinya tidak secara aktif meminta-minta sumbangan kepada masyarakat.

Menurut Joko, bantuan justru kerap datang dari orang-orang yang sebelumnya tidak ia kenal.

“Siapa aja yang kasih, kadang orang nggak kita kenal datang ke tempat kami. Saya nggak pernah minta-minta sumbangan, tapi mereka yang datang. Mungkin ini sudah petunjuk dari sana,” lanjutnya.

RELA MELEPAS HARTA DEMI ANAK ASUH

Pengabdian Joko bukan tanpa pengorbanan.

Ia pernah mengambil keputusan besar dengan menjual rumah dan mobil yang dimilikinya untuk membantu memenuhi kebutuhan anak-anak asuh.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa bagi Joko, harta bukanlah tujuan akhir.

Baginya, sesuatu yang dimiliki dapat menjadi sarana untuk memberikan kehidupan yang lebih baik kepada anak-anak yang membutuhkan perhatian.

Di tengah keterbatasan ekonomi, Joko tetap berusaha memastikan anak-anak yang diasuhnya mendapatkan kebutuhan dasar dan kesempatan untuk menjalani pendidikan.

Pengorbanan tersebut tentu tidak mudah.

Secara hitungan ekonomi, kebutuhan puluhan anak jauh melampaui kemampuan seorang pekerja dengan penghasilan biasa.

Namun, Joko memiliki cara pandang berbeda.

BAGI JOKO, MENGASUH ANAK BUKAN BEBAN

Orang-orang di sekitarnya terkadang merasa prihatin melihat besarnya tanggung jawab yang harus dipikul Joko.

Namun, Joko justru melihat kehidupannya dari sisi yang berbeda.

Ia mengaku tidak merasa terbebani oleh apa yang dilakukannya.

Sebaliknya, keberadaan anak-anak tersebut justru memberikan ketenangan dan kebahagiaan batin.

“Kata orang berat, saya nggak merasa. Yang didapat justru kedamaian dan kenyamanan batin,” kata Joko.

Kisah Joko memperlihatkan bahwa ukuran keberhasilan seseorang tidak selalu dapat dilihat dari jumlah harta yang dimiliki.

Ada orang yang memilih menggunakan apa yang dimilikinya untuk dirinya sendiri.

Namun, ada pula yang memilih berbagi, bahkan ketika dirinya sendiri tidak hidup dalam kemewahan.

Joko memilih jalan kedua.

Ia bekerja sebagai sopir, menjalani kehidupan sederhana, dan menghabiskan sebagian besar penghasilannya untuk memastikan anak-anak asuhnya tetap memiliki tempat tinggal, makanan, pendidikan, serta harapan untuk masa depan.

Kisah tersebut juga menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial tidak selalu membutuhkan jabatan tinggi atau kekayaan luar biasa.

Terkadang, kepedulian lahir dari keberanian untuk berbagi apa yang kita punya.

Bagi Joko Mulyanto, mungkin pengorbanan itu terlihat berat dari luar.

Tetapi bagi dirinya, kebahagiaan justru hadir ketika melihat anak-anak yang diasuhnya dapat menjalani hidup dengan lebih baik.

Di tengah banyaknya persoalan sosial di perkotaan, kisah sederhana seorang sopir yang memilih mengasuh puluhan anak tersebut menjadi pengingat bahwa kemanusiaan masih tumbuh dari tempat-tempat yang tidak selalu terlihat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *