Iran Tegaskan Negosiasi Hormuz dengan Oman Bersifat Bilateral, Bukan Upaya Buka Selat

0
IMG-20260803-WA0045

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa pembicaraan Iran dengan Oman mengenai Selat Hormuz berlangsung secara bilateral dan tidak berkaitan dengan negara atau pihak lain.

Baghaei mengatakan pembicaraan yang telah berlangsung dalam waktu cukup lama tersebut bertujuan membentuk mekanisme yang dapat menjamin kepentingan Iran. Menurutnya, pembicaraan itu bukan merupakan upaya untuk menentukan pembukaan maupun penutupan Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap kondisi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.

Iran Sebut Hormuz Tak Akan Kembali ke Kondisi Sebelum Perang

Baghaei menyatakan Selat Hormuz “tidak akan pernah kembali ke situasi sebelum perang”. Ia juga menuding kondisi penutupan selat berkaitan dengan apa yang disebut Iran sebagai sabotase Amerika Serikat dan blokade laut terhadap negaranya.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa setiap keputusan terkait jalur pelayaran tersebut akan ditentukan berdasarkan kepentingan nasional dan pertimbangan keamanan Iran.

Baghaei juga menyatakan Iran tidak akan mengubah keputusannya akibat ancaman maupun tekanan dari pihak lain.

Di sisi lain, Iran disebut tengah menjajaki kemungkinan rute transit maritim baru bersama Oman. Rencana tersebut disebut tidak akan menggunakan jalur utara maupun selatan yang selama ini menjadi jalur utama, dengan tujuan menjaga kepentingan bersama kedua negara.

Trump Klaim Ada Kesepakatan Buka Selat Hormuz

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu (1/8) mengklaim bahwa Amerika Serikat dan Israel telah sepakat menunda serangan terhadap Iran setelah adanya permintaan dari Iran dan sejumlah negara, termasuk China.

Trump menyebut penundaan tersebut dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi jalur diplomasi. Menurut klaim Trump, kesepakatan yang sedang direncanakan juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta langkah-langkah untuk menangani program nuklir Iran.

Namun, klaim tersebut mendapat tanggapan skeptis dari media Iran. Sejumlah media di Iran mempertanyakan pernyataan Trump dan menilai klaim tersebut tidak sejalan dengan posisi resmi Teheran mengenai masa depan Selat Hormuz.

Iran tetap menegaskan bahwa kawasan tersebut tidak akan kembali begitu saja ke kondisi sebelum perang.

Aktivitas Militer AS di Kawasan Meningkat

Di tengah ketegangan tersebut, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM melaporkan bahwa pasukan AS terus menjalankan operasi penegakan maritim terhadap Iran.

Menurut laporan CENTCOM, sejumlah kapal komersial telah dialihkan dan beberapa kapal lainnya menjadi sasaran tindakan dalam operasi tersebut. Aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan juga dilaporkan tetap berlangsung, termasuk operasi kapal induk USS Abraham Lincoln dan pesawat tempur F-35C di sekitar Laut Arab.

Situasi tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Iran sebelumnya memperingatkan bahwa setiap serangan Amerika Serikat akan mendapat respons tegas dan berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan tindakan yang disebutnya sebagai “petualangan” militer. Peringatan serupa disampaikan oleh pejabat militer Iran yang menilai tindakan Amerika Serikat dapat memicu kembali perang regional.

Negosiasi Iran-Oman Jadi Sorotan

Pembicaraan antara Iran dan Oman kini menjadi perhatian karena dapat memengaruhi masa depan jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz.

Oman selama ini dikenal memiliki hubungan diplomatik dengan berbagai pihak dan kerap berperan sebagai perantara dalam komunikasi antara Iran dan negara-negara Barat.

Namun, sejauh ini belum terdapat kepastian bahwa pembicaraan bilateral Iran-Oman akan menghasilkan kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.

Perbedaan posisi antara Iran dan Amerika Serikat masih menjadi tantangan utama. Iran mempertahankan sikapnya mengenai kondisi Selat Hormuz, sementara Trump menyampaikan klaim mengenai kemungkinan kesepakatan yang mencakup pembukaan jalur tersebut.

Perkembangan diplomasi dan aktivitas militer di kawasan akan terus menjadi perhatian masyarakat internasional. Jika ketegangan semakin meningkat, dampaknya dapat meluas terhadap keamanan regional, perdagangan internasional, serta distribusi energi global melalui jalur pelayaran strategis tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *