Pandemi dan Bisnis Triliunan Dolar: Moderna Raup Miliaran, Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan dari Krisis Kesehatan Global?
SOROTAN PUBLIK – Pandemi COVID-19 bukan hanya menjadi krisis kesehatan terbesar dalam beberapa dekade terakhir, tetapi juga mengubah peta bisnis industri kesehatan dunia. Ketika negara-negara berlomba mendapatkan vaksin, obat-obatan, alat tes, masker, dan alat pelindung diri (APD), perusahaan farmasi serta produsen perlengkapan medis memperoleh peluang pasar dalam skala sangat besar.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan penting: siapa saja yang memperoleh keuntungan ekonomi dari pandemi, dan sejauh mana kesiapan menghadapi pandemi telah berkembang menjadi industri bernilai miliaran dolar?
Salah satu istilah yang sering dibicarakan dalam konteks ini adalah pandemic preparedness industry, yaitu industri yang bergerak dalam kesiapsiagaan menghadapi pandemi. Cakupannya meliputi penelitian vaksin, pengembangan obat, teknologi kesehatan, sistem surveilans penyakit, alat diagnostik, hingga infrastruktur kesehatan.
MODERNA, DARI PERUSAHAAN RUGI MENJADI PEMAIN BESAR INDUSTRI VAKSIN
Salah satu contoh perubahan bisnis paling mencolok selama pandemi adalah Moderna.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang disampaikan kepada otoritas pasar modal Amerika Serikat (SEC), Moderna membukukan pendapatan sekitar US$60 juta pada 2019. Pada tahun yang sama, perusahaan mencatat kerugian operasional sekitar US$546 juta.
Situasinya berubah drastis setelah vaksin COVID-19 Moderna dipasarkan.
Pada 2021, total pendapatan perusahaan mencapai sekitar US$18,47 miliar. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar US$19,26 miliar pada 2022.
Namun, perlu dibedakan antara pendapatan dan keuntungan bersih. Pada 2021, Moderna mencatat laba bersih sekitar US$12,20 miliar, sedangkan pada 2022 laba bersihnya sekitar US$8,36 miliar.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya dampak komersial vaksin COVID-19 terhadap perkembangan perusahaan. Akan tetapi, data keuangan itu sendiri tidak membuktikan bahwa pandemi sengaja diciptakan untuk menghasilkan keuntungan.
PERUSAHAAN FARMASI DAN INDUSTRI KESEHATAN MENDAPAT PASAR BESAR
Moderna bukan satu-satunya perusahaan yang memperoleh pendapatan besar dari kebutuhan vaksin COVID-19.
Sejumlah perusahaan farmasi internasional, termasuk Pfizer, BioNTech, Johnson & Johnson, dan AstraZeneca, juga terlibat dalam pengembangan atau produksi vaksin selama pandemi.
Selain vaksin, permintaan global terhadap alat tes, masker, APD, ventilator, obat-obatan, dan layanan kesehatan meningkat tajam.
Pemerintah berbagai negara mengalokasikan anggaran besar untuk pengadaan kebutuhan tersebut. Kondisi ini membuka peluang bisnis bagi perusahaan yang memiliki kapasitas produksi dan teknologi kesehatan.
Meski demikian, besarnya pendapatan perusahaan tidak otomatis berarti seluruhnya merupakan keuntungan bersih. Biaya penelitian, produksi, distribusi, pajak, dan pengembangan produk harus diperhitungkan sebelum menyimpulkan besarnya laba.
PANDEMIC PREPAREDNESS, INDUSTRI KESIAPSIAGAAN PANDEMI
Kesiapsiagaan menghadapi pandemi menjadi salah satu agenda penting dalam kesehatan global.
Pemerintah, organisasi internasional, lembaga penelitian, dan perusahaan swasta mengembangkan berbagai sistem untuk mendeteksi ancaman penyakit lebih awal serta mempercepat respons ketika wabah muncul.
Bidang tersebut mencakup:
- Penelitian dan pengembangan vaksin.
- Pengembangan obat dan teknologi medis.
- Sistem pemantauan serta deteksi penyakit.
- Produksi alat diagnostik dan perlengkapan kesehatan.
- Penguatan laboratorium dan fasilitas kesehatan.
- Penyediaan rantai pasok obat serta vaksin.
Keterlibatan perusahaan swasta dalam sektor tersebut memang membuka peluang ekonomi. Karena itu, transparansi kontrak, harga pengadaan, pendanaan penelitian, dan hubungan antara pemerintah dengan industri kesehatan menjadi hal penting untuk diawasi.
Namun, adanya industri yang memperoleh keuntungan dari kesiapsiagaan pandemi tidak dapat dijadikan bukti bahwa perusahaan atau kelompok tertentu sengaja menciptakan wabah.
BILL GATES FOUNDATION DAN PENDANAAN KESEHATAN GLOBAL
Bill & Melinda Gates Foundation merupakan salah satu lembaga filantropi yang aktif mendukung program kesehatan global, termasuk penelitian vaksin, imunisasi, dan penguatan sistem kesehatan.
Dukungan pendanaan terhadap penelitian dan program kesehatan tersebut dapat menjadi bahan diskusi mengenai transparansi, prioritas pendanaan, serta pengaruh lembaga filantropi terhadap kebijakan kesehatan.
Namun, tuduhan bahwa yayasan tersebut menciptakan pandemi demi keuntungan pribadi atau kelompok tertentu membutuhkan bukti yang kuat. Pendanaan penelitian dan keterlibatan dalam program vaksinasi bukan bukti keterlibatan dalam penciptaan wabah.
GREAT RESET DAN PERDEBATAN ARAH EKONOMI DUNIA
Istilah Great Reset semakin dikenal setelah pendiri World Economic Forum (WEF), Klaus Schwab, menerbitkan tulisan berjudul “Now is the Time for a Great Reset” pada 3 Juni 2020.
Gagasan tersebut membahas perlunya perubahan dalam sistem ekonomi dan sosial setelah dunia menghadapi krisis COVID-19.
WEF juga menerbitkan buku berjudul COVID-19: The Great Reset yang ditulis Klaus Schwab bersama Thierry Malleret pada Juli 2020.
Gagasan tersebut menuai berbagai perdebatan mengenai peran pemerintah, perusahaan besar, kapitalisme, dan arah kebijakan ekonomi global.
Namun, keberadaan gagasan Great Reset tidak membuktikan bahwa pandemi COVID-19 dirancang oleh WEF atau kelompok elite global. Klaim mengenai rekayasa pandemi membutuhkan bukti ilmiah dan investigasi yang dapat diverifikasi.
INDONESIA HARUS MEMPERKUAT PENGAWASAN ANGGARAN KESEHATAN
Sebagai negara dengan jumlah penduduk besar, Indonesia memiliki kebutuhan kesehatan yang sangat luas. Pengadaan vaksin, obat-obatan, alat kesehatan, dan fasilitas penanganan penyakit membutuhkan perencanaan anggaran yang transparan.
Pengalaman pandemi COVID-19 menjadi pelajaran penting agar pemerintah memperkuat kemampuan produksi dalam negeri, penelitian kesehatan, kemandirian bahan baku obat, serta pengawasan pengadaan barang dan jasa.
Setiap penggunaan uang negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, terlebih ketika dilakukan dalam situasi darurat.
Keuntungan perusahaan farmasi bukan sesuatu yang otomatis melanggar hukum. Namun, potensi konflik kepentingan, praktik monopoli, harga pengadaan yang tidak wajar, dan penggunaan anggaran publik harus tetap diawasi.
Pada akhirnya, kesiapsiagaan pandemi memang dapat menjadi sektor bisnis bernilai besar. Tantangan bagi pemerintah dan masyarakat adalah memastikan bahwa kepentingan kesehatan publik tetap menjadi prioritas, bukan dikalahkan oleh kepentingan komersial.
Rakyat berhak tahu siapa yang menerima keuntungan, bagaimana uang negara digunakan, dan apakah kebijakan kesehatan benar-benar mengutamakan keselamatan masyarakat.
