Saat Aktivis Ditantang Turun ke Papua: Kritik Harus Berpijak pada Fakta, Bukan Sekadar Narasi
JAKARTA – Perdebatan mengenai program Food Estate di Merauke, Papua Selatan, kembali menjadi sorotan publik. Di tengah derasnya kritik yang berkembang di ruang publik, muncul sebuah pesan yang mengingatkan pentingnya melihat fakta secara langsung sebelum menjatuhkan penilaian.
Dalam sebuah forum diskusi yang membahas berbagai isu pembangunan nasional, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mendapat berbagai pertanyaan dan kritik terkait pelaksanaan program Food Estate di Merauke.
Sebagian peserta menyampaikan keraguan terhadap efektivitas program tersebut. Namun, alih-alih membalas dengan argumentasi panjang, Nusron memilih menawarkan sesuatu yang lebih sederhana: melihat langsung kondisi di lapangan.
Menurut cerita yang berkembang dari forum tersebut, Menteri ATR/BPN bahkan menyatakan kesediaannya memfasilitasi pihak-pihak yang ingin turun langsung ke Papua untuk menyaksikan sendiri perkembangan program yang menjadi salah satu proyek strategis nasional itu.
Ajakan tersebut dimaksudkan agar perdebatan mengenai Food Estate tidak hanya didasarkan pada asumsi, opini media sosial, atau informasi yang belum terverifikasi, melainkan berangkat dari pengalaman dan pengamatan langsung di lokasi.
“Kritik sangat diperlukan dalam demokrasi. Namun kritik yang kuat adalah kritik yang lahir dari fakta, bukan sekadar prasangka,” demikian pesan yang mengemuka dalam diskusi tersebut.
Food Estate Merauke sendiri merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pengembangan kawasan pertanian berskala besar. Program ini telah memunculkan beragam pandangan, mulai dari dukungan hingga kritik yang menyoroti aspek lingkungan, sosial, dan efektivitas pelaksanaannya.
Di sisi lain, sejumlah pihak menilai bahwa setiap kritik terhadap program strategis negara seharusnya tetap didasarkan pada data yang valid dan hasil observasi yang objektif. Dengan demikian, masukan yang diberikan dapat menjadi bahan evaluasi yang konstruktif bagi pemerintah.
Pengamat kebijakan publik menilai bahwa keterbukaan pemerintah untuk menerima kritik sekaligus mengajak masyarakat melihat langsung kondisi di lapangan merupakan langkah positif dalam membangun dialog yang sehat.
Dalam sistem demokrasi, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar. Namun, dialog yang produktif membutuhkan keberanian dari semua pihak untuk menguji argumentasinya dengan fakta-fakta yang ada.
Karena itu, tantangan terbesar bukanlah siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling siap menguji pendapatnya melalui kenyataan di lapangan.
Pada akhirnya, pembangunan nasional membutuhkan kritik yang cerdas, objektif, dan berbasis data. Sebab, hanya dengan cara itulah kebijakan publik dapat terus diperbaiki demi kepentingan rakyat dan masa depan bangsa.
