SBY Kenang Hadapi Demonstrasi Saat Menjabat Presiden: Suara Rakyat Harus Didengar
JAWA BARAT — Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengenang pengalamannya menghadapi berbagai demonstrasi selama menjabat sebagai kepala negara pada periode 2004–2014. Menurutnya, demonstrasi merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi yang harus disikapi dengan bijaksana oleh setiap pemimpin.
Pesan tersebut disampaikan SBY saat memberikan orasi dalam peringatan Dies Natalis ke-68 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad), Jawa Barat, Selasa (13/10/2026).
Dalam kesempatan itu, SBY menekankan pentingnya bagi seorang pemimpin untuk mendengarkan aspirasi masyarakat. Ia mengingatkan bahwa suara rakyat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses demokrasi dan tidak boleh diabaikan oleh penguasa.
“Kalau saya tidak mendengar suara rakyat, bisa jatuh,” ujar SBY.
Pernyataan tersebut mencerminkan pengalamannya selama memimpin Indonesia selama dua periode. Dalam sistem demokrasi, demonstrasi menjadi salah satu saluran bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik, tuntutan, dan aspirasi terhadap kebijakan pemerintah.
Karena itu, pemimpin dituntut mampu memahami pesan yang disampaikan masyarakat melalui berbagai bentuk penyampaian pendapat, sekaligus meresponsnya dengan kebijakan yang sesuai dengan kepentingan publik.
Pemimpin Harus Memiliki Visi Jangka Panjang
Selain menyoroti pentingnya mendengarkan suara rakyat, SBY juga mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak seharusnya hanya berorientasi pada kepentingan jangka pendek.
Menurut pesan yang disampaikannya, seorang pemimpin perlu memiliki visi yang jelas, menjaga integritas, serta memastikan arah pembangunan nasional tetap berorientasi pada masa depan bangsa.
Persoalan Indonesia, menurut kerangka pemikiran tersebut, perlu dilihat dalam perspektif jangka panjang, termasuk bagaimana kebijakan yang diambil saat ini akan memengaruhi kondisi negara dalam 10 hingga 30 tahun mendatang.
Visi jangka panjang diperlukan agar keputusan pemerintah tidak hanya berfokus pada penyelesaian persoalan sesaat, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan pembangunan, kualitas sumber daya manusia, serta masa depan generasi mendatang.
Demokrasi Membutuhkan Pemimpin yang Mau Mendengar
Pengalaman SBY menjadi pengingat bahwa hubungan antara pemerintah dan masyarakat merupakan salah satu unsur penting dalam menjaga kualitas demokrasi.
Demonstrasi dan kritik publik tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai gangguan. Dalam negara demokratis, penyampaian pendapat merupakan bagian dari kebebasan warga negara yang dilindungi oleh konstitusi dan peraturan perundang-undangan.
Di sisi lain, penyampaian aspirasi perlu berlangsung secara bertanggung jawab dan sesuai hukum, sementara pemerintah berkewajiban membuka ruang dialog serta menindaklanjuti tuntutan masyarakat melalui mekanisme yang berlaku.
Pesan SBY tersebut menegaskan pentingnya keseimbangan antara kepemimpinan yang memiliki arah jangka panjang, integritas dalam pengambilan keputusan, dan kesediaan mendengarkan suara rakyat.
Pada akhirnya, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh terselenggaranya pemilihan umum, tetapi juga oleh sejauh mana aspirasi masyarakat mendapat ruang, kritik ditanggapi secara proporsional, dan kekuasaan dijalankan dengan tanggung jawab.
